AKSI NYATA: DESIMINASI BUDAYA POSITIF

DI SMK NEGERI 1 HARUAI

 

Hairudin Rahman

CGP Angkatan 10 Kelas A.10.25 Kabupaten Tabalong

SMK Negeri 1 Haruai

 

 

Latar Belakang

Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan asumsi dasar yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan diyakini di sekolah.Nilai tersebut tertuang pada visi dan misi sekolah. Sehingga, tentu saja budaya positif tersebut berisi kebiasaan-kebiasaan yang sudah disepakati bersama dan dijalankan dengan memperhatikan  kodrat alam dan kodrat zaman serta keberpihakan pada murid. 

Hal ini sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada murid agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagaiaan yang setinggi-tingginya.” Oleh karena itu, upaya dalam menanamkan budaya positif di sekolah merupakan tanggung jawab guru, karena guru memiliki peran sentral yaitu posisi kontrol sebagai manajer dalam meningkatkan kreativitas belajar murid dalam membentuk budaya positif.

Guru juga berperan sebagai motivator dan inspirator dalam menumbuhkan budaya positif sehingga nantinya guru akan menjadi “ing ngarsa sung tuladha” dan menjadi agen transformasi perubahan untuk mewujudkan murid yang memiliki karakter profil pelajar Pancasila. Dalam menciptakan budaya positif, guru tentunya harus bekerjasama dengan ekosistem sekolah dalam hal ini kepala sekolah, rekan-rekan guru dan juga murid serta melibatkan orangtua dan masyarakat sekitar. Adanya kolaborasi antara pihak sekolah dengan masyarakat dalam meningkatkan kreativitas belajar murid untuk membentuk budaya positif dengan menciptakan karakter murid yang memiliki nilai-nilai pelajar Pancasila.

Oleh sebab itu, desiminasi ini dilakukan karena guru memiliki peran untuk mewujudkan budaya positif di sekolah. Budaya positif merupakan perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah terkait perubahan paradigma belajar, disiplin positif, motivasi perilaku manusia, kebutuhan dasar, posisi kontrol restitusi, keyakinan kelas dan segitiga restitusi. Namun realitanya, masih ditemukan guru yang memberikan hukuman kepada murid atas kesalahan yang dilakukan dan memberikan imbalan terhadap perbuatan baik yang murid kerjakan.

 

Tujuan

Desiminasi ini dilakukan dengan tujuan yaitu untuk:

·       Meningkatkan praktik budaya positif murid maupun warga sekolah

·       Menumbuhkan motivasi intrinsik dan nilai-nilai universal yang diyakini murid.

·       Mewujudkan murid yang merdeka dan disiplin yang kuat.

 

 

Tolak Ukur

Tolak ukur atau indikator keterlaksanaan dan keberhasilan aksi nyata ini adalah:

·      Terlaksananya desiminasi konsep inti budaya positif di sekolah.

·      Terbentuknya ‘keyakinan kelas” bersama wali kelas dan murid.

·      Terciptanya lingkungan atau suasana sekolah/kelas yang positif.

·      Terlaksananya penyelesaian masalah murid dengan segitiga restitusi.

 

Lini Masa

Aksi nyata ini dapat terlaksana dengan rancangan tahapan kegiatan sebagai berupa:

·       Berkoordinasi dengan kepala sekolah dan semua wakasek.

·       Mengumpulkan rekan guru untuk melaksmuridan desiminasi budaya positif di sekolah

·       Membentuk, merefleksi dan mengevaluasi keyakinan kelas atau budaya positif lainnya yang di buat.

 

Dukungan

Kegiatan aksi nyata berupa desiminasi budaya positif ini dapat terlaksana karena adanya dukungan berupa:

·       Kehadiran dan kolaborasi maupun arahan dari Kepala sekolah, wakasek, rekan sejawat, murid, guru BK, dll

·       Ruang dan perlengkapan desiminasi

·       Perlengkapan pembentukan keyakinan kelas: karton, sticky note, polpen dan lakban.

 

Pelaksanaan Desiminasi

Aksi nyata modul 1.4 berupa desiminasi budaya positif dilaksanakan pada hari Senin, 3 Juni 2024 pukul 09.00-12.00 Wita di Ruang Bengkel ATPH SMK Negeri 1 Haruai. Rangkaian acara  desiminasi tersebut yaitu pembukaan, do’a, menyayikan lagu Indonesia Raya, pemaparan desiminasi budaya positif oleh CGP dan penutup. Jumlah peserta yang hadir yaitu rekan guru dan tenaga kependidikan berjumlah 20 orang.

 

Kegiatan aksi nyata ini dibuka oleh Ibu Fahrinati Fitriah, S.Pd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum karena Bapak Kepala Sekolah ada kegiatan tugas luar. Ibu Wakakur sangat menyambut baik kegiatan aksi nyata ini. Beliau juga berharap agar guru terutama CGP dapat meningkatkan kedisplinan di sekolah dan mengimbaskannya ke rekan guru lainnya demi pendisiplinan warga sekolah.

Terdapat dua pokok bahasan yang disampian oleh saya sebagi CGP dalam kegiatan desiminasi. Pertama terkait pemahaman konsep-konsep inti budaya positif dan kedua yaitu pengalaman penerapan budaya positif di sekolah/kelas. Konsep-konsep inti budaya positif  disampaikan dengan penjelasan, interaksi informatif, dan pemberian contoh meliputi: a) perubahan paradigma berlajar dari teori stimulus respon menjadi teori kontrol, b) konsep disiplin positif dengan pertanyaan yaitu apakah telah efektif, apakah masih perlu ditinjau kembali? apa sesungguhnya arti dari disiplin itu sendiri? apa kaitannya dengan nilai-nilai kebajikan universal? c) nilai-nilai kabajikan universal sebagi prinsip moral dalam berperilaku yang baik dan benar, disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya, d) tiga motivasi perilaku manusia berdasarkan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman (motivasi eksternal), untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain (motivasi eksternal), dan untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya (motivasi internal), e) penghargaan (apresiasi) dikatan efektif jika menginginkan seseorang melakukan sesuatu yang dinginkan dalam jangka waktu pendek, sedangkan jika kita menggunakan penghargaan lagi, dan lagi, dalam rentang waktu tang relatif lama, maka orang tersebut akan bergantung pada penghargaan yang diberikan, serta kehilangan motivasi dari dalam., f) lima kebutuhan dasar mausia yaitu bertahan hidup, rasa diterima dan kasih sayang kesenangan, kebebasan, dan penguasaan., g) hukuman vs konsekuensi dimana hukuman tidak terencana/tiba-tiba dan satu arah. Guru yang memberikan, murid yang menerima tanpa kesepakatan sebelumnya, sedangkan konsekuensi adalah bentuk pendisiplinan terencana dan sudah disepakati, sudah dibahas dan disetujui murid sebagai akibat yang diterima bila ada pelanggaran., h) restitusi sebagai proses kolaboratif menciptakan kondisi murid untuk memperbaiki kesalahannya secara mandiri agar bisa kembali ke kelompok dengan karakter yang kuat/lebih baik dengan 5 posisi kontrol yaitu penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer., i) pembahasan keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan yang disepakati bersama berupa nilai-nilai kebajikan universal oleh guru dan murid untuk menjadi pedoman budaya/pendisiplinan positif di sekolah/kelas., j) terakhir mengenai segitiga restitusi yaitu proses menciptakan kondisi bagi peserta didik untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat dengan tahapan yaitu menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan.

Pengalaman penerapan budaya positif di sekolah/kelas disampaikan terkait: a) penerapan berbagai kegiatan disiplin positif di sekolah seperti berakhlak dan saling menghormati, sopan santun, berani, aktif dan bertanggung jawab dalam belajar, gotong-royong kebersihan lingkungan sekolah, dll., b) pembentukan keyakinan kelas bersama wali kelas, dan c) penerapan segitiga restitusi dalam menangani permasalahan (kasus) murid) disertai dengan tanggapan (respon) dari murid terhadap tindakan restitusi yang dilakukan guru.

 

Kesimpulan dan Refleksi

Kegiatan desiminasi akhirnya terlaksana dengan durasi waktu lebih dari satu jam. Menurut rekan-rekan guru bahwa kegiatan desiminasi ini dirasa sangat menarik, informatif dan inspiratif. Bahkan ada beberapa guru yang berucap kapan lagi diadakan kegiatan seperti ini dalam meningkatkan budaya postif dan kolaborasi guru dalam mewujudkan visi sekolah atau kegiatan lain daro program guru penggerak.

 

Rencana Perbaikan

Terkait penerapan budaya positif dan desiminasi ini, hal-hal yang perlu ditingkatkan oleh CGP dan pihak sekolah yaitu:

·       Meningkatkan koordinasi dan kolaborasi semua warga sekolah dalam penerapan budaya positif sekolah terutama dalam penyusunan keyakinan kelas dan penerapan segitiga restitusi.

·       Terus gali dan tingkatkan budaya positif sekolah agar terwujud motivasi intrinsik dalam mencapai visi sekolah.

·       Pendokumentasian kegiatan disiplin/budaya positif sekolah dengan lebih baik lagi.

·       Melakukan evaluasi secara berkala atas kegiatan yang dilakukan.

Komentar

  1. Silakan berikan respon/tanggapan/komenta disini ya. Terima kasih

    BalasHapus
  2. Kegiatan yang dilakukan sangat menarik, informatif dan inspiratif. Semangat untuk terus berkarya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas tanggapannya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Language Feature: Pronoun