BLENDED LEARNING MENGGUNAKAN GOOGLE CLASSROOM DENGAN MEDIA ONLINE BRITISH COUNCIL DAN VIDEO YOUTUBE
MAKALAH
TINJAUAN ILMIAH
IMPLEMENTASI BLENDED LEARNING MENGGUNAKAN GOOGLE CLASSROOM
DENGAN MEDIA ONLINE BRITISH COUNCIL DAN VIDEO YOUTUBE
UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI LISTENING
PESERTA DIDIK TERKAIT TEKS
WAWANCARA PEKERJAAN
Oleh:
HAIRUDIN RAHMAN, S.Pd.I., M.Pd
NIP. 19831009 200904 1 001
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMK
NEGERI 1 HARUAI
2021
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pembelajaran
bahasa Inggris di SMK merupakan upaya penguasaan bahasa asing atau target
sesuai dengan kompetensi keahlian peserta didik berupa English for Specific
Purposes. Hal ini penting sebagai daya dukung dalam mengembangkan wawasan,
kompetensi kompetensi keahlian dan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi.
Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 07/D.D5/Kk/2018 tentang kompetensi
inti dan kompetesnsi dasar mata pelajaran bahasa Inggris SMK juga diketahui
bahwa dalam mempelajari bahasa Inggris, peserta didik diharapakan dapat
menganalisis berbagai teks dan mengkomunikasikannya dalam konteks pengembangan
potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga
masyarakat nasional, regional, dan internasional.
Dalam
mencapai tujuan tersebut, tentu saja peserta didik perlu mempelajari bahasa
Inggris secara bertahap dan terintegrasi kedalam empat keterampilan berbahasa yaitu
keterampilan menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca
(reading), dan menulis (writing). Keterampilan awal yang harus
dipelajari yaitu listening. Ghaderpanahi (2012) menegaskan bahwa
anak-anak mendengarkan dan merespons suatu bahasa sebelum mereka dapat
berbicara. Ketika anak ingin membaca, mereka juga masih harus mendengarkan
untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan kosakata.
Meskipun
sebagai keterampilan awal dalam mempelajari bahasa untuk memperoleh input,
bukan berarti keterampilan menyimak lebih mudah untuk dipelajari atau diajarkan
ke peserta didik dibandingkan dengan keterampilan lainnya. Permasalahan yang sering
muncul di kelas berdasarkan opini peserta didik adalah kegiatan listening
sangat sulit. Mereka menyatakan bahwa ucapan penutur asli berbeda dengan bahasa
ibu mereka sehingga teks lisan menjadi susah dicerna, tidak dimengerti dan terasa
cepat didengar.
Permasahan
ini sejalan dengan pernyataan Ummah (2012) yang menegaskan bahwa keterampilan mendengarkan
bahasa inggris yang diucapkan secara verbal (spoken English) merupakan
salah satu keterampilan yang ada dalam English language skills. Memahami
kata atau kalimat bahasa Inggris yang diucapkan oleh penutur asli (native
speaker) merupakan suatu persoalan yang sangat kompleks yang dihadapi
oleh orang yang belajar bahasa kedua.
Dari
referensi lainnya diketahui bahwa keterampilan menyimak juga mempunyai beberapa
tantangan di kelas EFL (bahasa Inggris sebagai bahasa asing). Gilakjani
dan Sabouri (2016) menyebutkan bahwa tantangan tersebut antara lain: (1)
rendahnya kualitas bahan rekaman; (2) kurangnya keaslian; (3) konteks budaya
yang berbeda terhadap pemahaman peserta didik; (4) aksen asing antara native
dan non-native tentunya akan mengganggu proses pemahaman peserta didik; (5)
tingkat kosakata yang asing atau tinggi yang tidak digunakan secara tepat dalam
konteks peserta didik sehingga membuat mereka bingung; dan (6) kecepatan dan
lamanya menyimak menyebabkan peserta didik tidak mudah fokus pada teks atau
kegiatan menyimak. Beberapa persoalan dan tantangan yang disampaikan merupakan permasalahan
yang sering dihadapi guru bahasa Inggris dalam meningkatkan kemampuan menyimak
sebagai bahasa asing di kelas.
Selain
permasalahan terkait kegiatan menyimak, kini guru dan peserta didik di tahun
2020 hingga dipenghujung tahun 2021 masih dihadapkan dengan tantangan berupa Corona
Virus Diseases (COVID-19) sebagai wabah nasional. Untuk menghindari penyebaran
virus tersebut di masyarakat, diberlakukanlah Pembatasan Pelaksanaan Kegiatan
Masyarakat (PPKM) sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 01 Tahun 2021 yang
membatasi sejumlah kegiatan; dari bekerja, beribadah, berwisata, bersekolah dan
lainnya. Pembatasan kegiatan di sekolah berwujud larangan pembelajaran tatap
muka (PTM) dan diarahkan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari
rumah (BDR) berupa pembelajaran online (e-learning). Sistem pembelajaran
ini menuntut guru untuk melek IT atau teknologi informasi dan mengharuskan
peserta didik berpartisipasi aktif mengikuti pembelajaran dari rumah dengan
gawai yang dimiliki.
Hadirnya
kegiatan PJJ ataupun BDR ternyata menimbulkan pro dan kontra dikalangan
pendidik, peserta didik maupun orang tua wali. Masalah yang muncul
kenbanyakannya terkait keterbatasan gawai yang dimiliki, belum siapnya
penguasaan teknologi, dan kurang efektifnya pembelajaran daring dibandingkan
dengan kegiatan tatap muka dikelas. Bak simalakama, di tengah kekhawatiran
penularan dan tertular virus COVID-19, maka pilihan kebijakan terbaik mana yang
harus dipilih; sekolah tatap muka atau masih dengan pembelajaran jarak
jauh/daring, dan atau juga sistem daring-luring (blended learning)?
Per
Oktober 2021, ternyata pemerintah masih belum memperkenankan sekolah melakukan
kegiatan tatap muka dan masih kekeh agar tetap menggelar pembelajaran secara
online. Hal ini dikarenakan, tujuan utama dari pembelajaran online/e-learning
adalah untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang semakin meningkat dan hanya bisa
dilakukan dengan cara daring. Sunardi, dkk (2020) menegaskan bahwa pembelajaran
daring atau e-laerning sangat tepat dilakukan pada saat pandemi karena
pembelajaran ini merupakan tuntutan sistem pembelajaran terkini. Daryanto
(2013) menyatakan bahwa pembelajaran daring adalah proses pembelajaran secara
elektronik menggunakan media Internet, komputer, dan file multimedia berupa
teks, suara, gambar, animasi dan video. Yang dimaksud elektronik disini bukan
semata-mata peralatannya, melainkan metode dan medianya. Hal ini terkait dengan
bagimana guru berbagi ilmu pengetahuan, mendownload materi pembelajaran,
mengupload tugas, melakukan diskusi dan sebaginya dilakukan secara elektronik.
Tak
disangkal lagi, guru sebagai agen of change memiliki kedudukan yang
sangat penting dalam menanggapi perubahan sistem pembelajaran dan penggunaan
teknologi. Sejalan dengan paparan Nasirah (2020), Mubarok (2015), dan Wicaksono & Rachmadyanti (2020) yang
menegaskan bahwa teknologi dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dan tentu saja
harus sejalan. Blended learning adalah salah satu solusi yang bisa
dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran jarak jauh (daring).
Blended
learning adalah kesempatan untuk mengintegrasikan inovasi dan teknologi
yang ditawarkan oleh pembelajaran daring dengan interaksi dan partisipasi
pembelajaran konvensional. Husamah (2013) dan Thorne (dalam Sjukur, 2012) juga
menegaskan bahwa model pembelajaran blended learning merupakan
kegiatan pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka atau
pembelajaran secara konvensional melalui metode ceramah, penuguasan, tanya
jawab dan demontrasi dengan pembelajaran secara online yang memanfaatkan
berbagai macam media dan teknologi dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Blended
learning sebagai bagian dari LMS (Learning
Management System), menurut Ellis (2009) dapat dikatakan merupakan sebuah
managemen pembelajaran yang disiapkan untuk peserta didik dan guru dalam
melakukan pembelajaran melalui perangkat lunak. Adapun perangkat lunak LMS yang
bisa digunakan dalam blended learning antara lain: ACS,
Blackboard, Certpoint, Moodle, Canvas, Google Classroom, dan sebagainya.
Beberapa
penelitian relevan dilakukuan menunjukkan hasil yang sangat siginifikan terkait
pembelajaran dengan menggunakan blended learning dalam
meningkatkan hasil pembelajaran bahasa Inggris dan keterampilan menyimak. Rachman,
Sudiyono, & Phonix (2021) dalam penelitian mereka mengindikasikan bahwa
dampak positif pengimplementasian blended learning yaitu membantu para
guru untuk menutupi kekurangan yang ada dalam pembelajaran offline (tatap muka)
berupa pembelajaran online. Selain itu, dapat juga membantu peserta didik menggunakan
bahasa Inggris secara kontekstual dengan berbagai media online untuk
meningkatkan kemampuan bahasa mereka.
Implementasi
blended learning pada pembelajaran listening juga diteliti oleh
Aji (2017). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kegiatan menyimak merupakan
keterampilan berbahasa yang dapat dikembangkan melalui latihan. Penerapan
blended learning memungkin guru memfasilitasi peserta didik secara mandiri untuk
meningkatkan keterampilan mendengarkan mereka menggunakan media seperti
videotape, audiotape atau komputer dimanapun melaui pembelajarn online, baik di
rumah atau di laboratorium bahasa dengan bahan tertentu. Dengan demikian, peserta
didik dapat berlatih mendengarkan kosa kata, struktur kalimat dan dialog dalam
bahasa sasaran sesering dan sefektif mungkin.
Selama
pandemi dan adanya himbauan bagi peserta didik untuk belajar dari rumah oleh
pemerintah dan dinas terkait, memaksa penulis juga untuk menerapkan blended
learning berupa penggunaan Google Classrom. Platform
pembelajaran ini pada awalnya bagi penulis menimbulkan permasalahan terkait
terbatasnya interaksi, komunikasi dan bimbingan terhadap perkembangan bahasa
dan pembentukan karakter peserta didik. Namun, seiring berjalannya waktu dan
penggalian informasi terkait platform pembelajaran, GC malah sangat membantu penulis
dalam kegiatan mengajar jarak jauh yang lebih efektif dari pada menggunakan
WhatsApps dikarenakan materi/tugas yang diupload teradministrasi dengan baik
begitu juga dalam pengevaluasian/penskoran hasil tugas yang diupload peserta
didik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Zuriah (2020)
mengindikasikan bahwa strategi penerapan blended learning dengan Google
Classroom di masa pandemi Covid-19 malah menunjukkan implikasi yang
positif dalam penerapan Blended learning dengan Google Classroom
yang dapat meningkatkan kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis peserta
didik pada siklus I (62,91%), siklus II (82,69%), dan siklus III (90,37%).
Google
classroom sebagai platform blended learning
yang dikembangkan oleh Google untuk sekolah, tentu saja mempunyai
signifikan bagi guru dalam menyederhanakan pembuatan, pendistribusian dan penetapan
tugas dengan cara tanpa kertas atau berbasis online. Sebagaimana Aini (2018),
Astuti, dkk (2021), Nanthinii (2020), dan Nasirah (2020) juga memaparkan bahwa Google
Classroom sebagai web aplikasi yang bisa digunakan sebagai media pembelajaran
virtual. Platform atau aplikasi pembelajaran yang dapat digunakan di
dalam dan di luar kelas atau kapanpun saja sebagai media pembelajaran jarak
jauh bagi peserta didik.
Penerapan
Google Classroom sebagai platform belajar juga dapat meningkatkan
keterampilan reseptif (menyimak dan membaca) teks bahasa Inggris. Penelitian ini dilakukan oleh Dewi, dkk (2020), hasil
penelitian mereka menunjukkan bahwa nilai pembelajaran bahasa Inggris peserta
didik makin membaik yang ditunjukan pada pra-siklus sebesar 64,66%, siklus I
76,96 % dan siklus II 76,29%. Selain itu, penggunaan Google Classroom
dirasa menarik bagi peserta didik berdasarkan hasil observasi dan tes. Singkat
kata, penggunaan teknologi khususnya Google Classroom dalam
proses pembelajaran dapat membantu peserta didik meningkatkan kemampuan
reseptif berbahasa Inggris peserta didik.
Namun,
perlu digarisbawahi bahwa penggunaan Google Classroom saja dalam
pembajaran bahasa Inggris khususnya pada keterampilan listening belum
tentu juga bisa langsung mengatasi tantangan atau permasalahan yang ada
sebagaimana disebutkan sebelumnya terkait keterampilan listening itu
sendiri atau pada pembelajaran jarak jauh. Hal ini dikarenakan ada faktor lain
yang juga mempengaruhinya yaitu berupa faktor subtansi berupa muatan kompetensi
bahasa Inggris yang harus dikuasi peserta didik. Kegiatan pembelajaran bahasa
Inggris SMK lebih cenderung terkat dengan analisis fungsi sosial, struktur teks
dan unsur kebahasaan berbagai teks monolog atau teks transaksional (dialog)
terkait situasi kerja tertentu. Salah satu contoh teks transaksional terkait
wawancara pekerjaan untuk peserta didik kelas XII. Di pertemuan pertama terkait
kompetensi dasar ini, hanya sekitar 30% peserta didik yang dapat menganalisis
fungsi ataupun menangkap makna berdasarkan rekaman audio (recording) yang
penutur asli sampaikan pada dialog.
Tentu
saja, permasalahan ini harus segera diatasi demi tercapainya tujuan
pembelajaran yang tepat, misalnya menggunakan GC berbantuan layanan British
Council. Sebagaimana penilitan yang dilakukan oleh Ningtias,
Prastikawati & Wahyuni (2021) diketahui bahwa British Council
sebagai media latihan online untuk pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing
(EFL) memberikan kontribusi yang lebih pada keterampilan menyimak. Hal ini
dikarenakan, fitur British Council memberikan tugas/latihan
online disertai audio atau podcast, transkrip dan worksheet (lembar
kerja/tugas) untuk pembelajara sebagai sarana belajar mandiri. Dengan demikian,
website ini memainkan peran yang sangat positif dalam menghadirkan kemajuan
teknologi dan peningkatan skill berbahasa Inggris.
Selain
itu, berdasarkan paparan dari penelitian Rizkan, Mukhaiyar, & Refnaldi
(2018) dapat diketahui bahwa guru perlu menggunkan media pembajaran yang tepat
pada aplikasi pembelajaran (missal pada Google Classroom) sebagai alat yang
memudahkan peserta didik dalam mempelajari teks lisan yang disampiakan oleh
penutur asing seperti menggunakan video YouTube karena ada subtititle
(transkripnya) atau menggunakan audio recording yang sesuai dengan level
mereka.
Penelitian
lainnya juga memberikan hasil positif terkait permasalahan di kelas listening
dengan menggunakan media YouTube. Qomariyah, Permana,
& Hidayatullah (2021) dari hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik
merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar mendengarkan pemahaman
dengan menggunakan video YouTube sebagai media pembelajaran selama proses
pembelajaran berlangsung di kelas. Riftiningsih (2018) berdasarkan PTK yang
dilakukan diketahui bahwa peningkatan keterampilan menyimak peserta didik
menggunkan media video cukup signifikan yang ditunjukkan pada siklus I yaitu
6.667% dan siklus sebesar II 76.667%.
Dengan
demikian, berdasarkan permasalahan yang dipaparkan, penelitian terdahulu yang
relevan sebagai rujukan dan teori sebagi tinjaun ilmiah, maka penelitian ini
dilakukan dengan metode library reseach (studi kepustakaan). Penelitian
ini tentu saja berbeda dengan penelitian lainnya karena lebih menfokuskan pada
objek penggunaan model blended learning melalui Google Classroom
dengan media online British Council dan video YouTube dalam
upaya meningkatkan keterampilan listening peserta didik terkait dialog
wawancara pekerjaan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
paparan latar belakang masalah, rumusan masalah yang diajukan pada penelitian
ini yaitu bagaimanakah implementasi blended learning menggunakan Google
Classroom dengan media online British Council dan video YouTube
dapat meningkatkan kompetensi listening peserta didik terkait teks wawancara
pekerjaan.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan
studi kepustakaan (library research), maka tujuan yang ingin dicapai pada penelitian
ini adalah untuk mengetahui lebih jauh terkiat penerapan model Blended Learning
dengan flatform Google ClassIroom berbantuan British
Council dan video YouTube dapat meningkatkan kompetensi listening
peserta didik terkait teks wawancara pekerjaan.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil
atau temuan yang didapat melalui implementasi model blended learning
menggunakan Google Classroom berbantuan media online British
Council dan video YouTube diharapkan dapat bermanfaat secara
teoritis dan praktis bagi guru dan sekolah sebagai hasil evaluasi dan informasi
bagi para guru untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa
Inggris khususnya pada kompetensi menyimak teks transaksional atau dialog
lisan.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Agar
permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini lebih fokus, maka peneliti menggaris
bawahi ruang lingkup atau batasan penelitian sebagai berikut:
a.
Makalah ini hanya berupa
review atau kajian literatur dari berbagai teori dan penelitian yang releven untuk
membahas permasalahan yang dihadapi penulis di kelas;
b.
Penelitian ini merupakan
upaya untuk mengetahui peningkatan kompetensi menyimak peserta didik melalui
penerapan Google Classroom;
c.
Media untuk pembelajaran listening
yang digunakan pada Google Classroom hanya menggunakan British Council
dan video YouTube; dan
d. Kompetensi dasar sebagai objek penelitian ini terbatas pada kompetensi pengetahuan (KD. 3.29) yaitu menganalisis fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks interaksi transaksional lisan yang melibatkan tindakan memberi dan meminta informasi terkait jati diri dalam konteks pekerjaan (wawancara pekerjaan).
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1 Pembelajaran
Tatap Muka vs. Pembelajaran Jarak Jauh
2.1.1
Karakteristik dan kelebihan pembelajaran tatap muka
Pembelajaran
tatap muka (PTM) atau luring menurut Lestari, dkk (2021) adalah kegiatan
pembelajaran berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang
belangsung atau hadir secara fisik di ruang kelas. Dengan demikian, karakteristik
pembelajaran tatap muka adalah kegiatan terencana yang berorientasi pada tempat
serta interaksi sosial di dalam ruang kelas. Strategi pelaksanaan pembelajaran
bervariasi seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi, pembelajaran
kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, dll.
Meskipun,
kegiatan PTM masih bersifat konvensional, banyak pendidik dan para peneliti
berpendapat bahwa model pembelajaran ini masih lebih ideal sampai sejauh ini
dari pada pembelajaran daring. Sebagaimana Madjid (2020)
memaparkan kelebihan dari PTM adalah sebagai berikut: (1) interaksi dan
komunikasi lebih mudah dalam menyampaikan informasi dan tanya-jawab, sedangkan
pada daring terbatas pada video call atau chat saja; (2) sumber
dan media pembelajaran lebih familiar, sedangkan flatform daring masih perlu persiapan
dan pelatihan yang memadai; (3) tidak harus terhubung dengan Internet; (4) mudah
dalam penilaian karakter karena berinteraksi dan menganalisis secara langsung;
(5) lebih mudah dipantau dan dikontrol dalam hal motivasi, kejenuhan dan fokus
dalam belajar; dan (6) praktikum lebih gampang, efektif
dan guru dapat memastikan bahwa apa yang dibuat atau
hasil praktikum yang dikerjakan merupakan hasil karya para peserta didik.
Pendapat lainnya diutarkan oleh Totoh (2021),
praktisi pendidikan perguruan tinggi ini juga menegaskan bahwa selama
pemberlakuan PJJ ada banyak alasan para peserta didik ingin sekolah, mulai dari
kejenuhan, banyak tugas yang kurang dipahami, kurang efektifnya PJJ, ada mata
pelajaran yang tidak bisa dengan online dan kerinduan mereka ingin mengenal
teman-temannya juga guru-gurunya yang hanya dikenal lewat daring. Yang pasti,
mereka ingin bersosialisasi dan berinteraksi mulai dari bercanda gurau,
mengobrol, bermain, lari-lari, bernyanyi, dan juga jajan bersama di kantin. Pengalaman
yang mengasyikkan ini hamper 2 tahun tidak dirasakan lagi oleh peserta didik. Dengan
demikian, harus diakui jika penutupan sekolah fisik dan pelaksanaan pendidikan
jarak jauh memiliki efek merugikan pada pembelajaran peserta didik melalui
empat saluran utama, keempatnya adalah; (1) Efektivitas waktu belajar; (2)
Stres yang meningkat; (3) Perubahan pada cara interaksi peserta didik; dan (4)
Menurunnya motivasi belajar.
2.1.2
Karakteristik dan kelebihan pembelajaran jarak jauh
Pro
dan kontra PTM vs Daring adalah bak simalakama. Namun, di tengah kekhawatiran penularan
dan tertular virus COVID-19, harus disadari jika pandemi COVID-19 telah
berhasil mempercepat terjadinya perubahan pada sikap dan perilaku pengelola
pendidikan, termasuk guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran pada
semua jenjang dan jenis pendidikan untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang kian
masif. Kebijakan PJJ mulai dari berbagai program televisi atau sistem online
atau e-learning/ daring dari sekolah, juga pembelajaran daring-luring atau blended
learning yang dikelola sendiri oleh satuan pendidikan menjadi transisi
global di bidang akademis.
Terkait,
pembelajaran daring, jika dilihat dari KBBI Kemendikbud, daring adalah akronim
dalam jaringan, terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya. Menurut
Daryanto (2013) mendefinisikan pembelajaran daring adalah sebagai sistem
pembelajaran mengunakan media elektronik, internet, komputer dan file
multimedia (suara, gambar, animasi dan video). Dengan kata lain, pembelajaran
daring adalah metode belajar yang menggunakan model interaktif berbasis
internet dan Learning Manajemen System (LMS). Seperti menggunakan Zoom, Google
Meet, Google Classroom, dan lainnya.
Sedangkan,
karakteristik pembelajaran daring yaitu:
a.
Memanfaatkan jasa elektronik, dimana guru
dan peserta didik dan sesama peserta didik atau guru dengan sesama guru dapat
berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang
protokoler.
b.
Memanfaatkan keunggulan komputer (digital
media dan computer network).
c.
Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self-learning
materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan peserta
didik kapan saja dan dimana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.
d.
Memanfaatkan jadwal pembelajaran
kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan
administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat dikomputer. (Siahaan, 2008)
Dari
karakteristik tersebut, keuntungan dan maanfaat pembelajaran jarak jauh berupa pembelajaran
daring/e-learning dikutip dari Daryanto (2013) antara lain yaitu: (1) real-time
and on demand online information berupa synchronous learning yaitu pembelajaran
daring secara langsung menggunakan aplikasi telekonferensi, (2) mobility
access, fleksibel, dan praktis karena dapat dilaksanakan kapan saja sesuai
keinginan, (3) mengurangi biaya pendidikan terkait infrastruktur, peralatan,
buku-buku pelajaran, dan lain-lain), (4) mengoptimalkan kualitas belajar, (5) less
administrative papers (mengurasi penggunaan kertas sebagai bagian dari
kelengkapan administrasi), (6) dapat melengkapi aktivitas belajar PTM atau
konvensional, (7) alternatif media belajar anak-anak, remaja, orang dewasa,
samai orang tua untuk belajar kapan pun dan menyenangkan, (8) melatih
pembelajar lebih mandiri dan berkembang dalam ilmu dan pengetahuan, (9)
fleksibel memilih materi yang benar-benar diinginkan atau dibutuhkan, (10)
sumber ilmu, informasi dan referensi yang berlimpah, (11) menghemat waktu
proses belajar-mengajar, dan (12) belajar-mengajar dengan aman dan sehat.
Apresiasi
atas kebijakan dalam evaluasi PJJ dengan segala keterbatasan dan kekurangannya,
pelatihan guru, dan infrastruktur teknologi. Munculnya potensi lost of
learning (kehilangan pembelajaran) khususnya di daerah terpencil dan
risiko psikososial kepada satu generasi anak-anak di Indonesia bisa menjadi
permanen adalah suatu risiko yang harus ditangani segera. Namun, jika kegiatan
belajar ingin segera tatap muka maka yang penting untuk dilakukan oleh
pemerintah, pihak sekolah, guru, orang tua, peserta didik dan masyarakat adalah
memastikan tidak ada risiko penularan dan tertular virus COVID-19. Namun, jika
tidak siap, maka pembelajaran melalui jarak jauh lebih aman.
2.2 Model Pembelajaran Blended
Learning
2.2.1 Karakteristik blended learning
Blended
learning merupakan gabungan 2 istilah Bahasa Inggris, yaitu: blended
dan learning. Kata blend artinya campuran, sedangkan learn
yang artinya belajar. Makna dasar sebenarnya mengandung belajar campuran,
sehingga dapat dikatakan pembelajaran yang mengunakan berbagai macam cara. Para
ahli sepakat bahwa istilah blended learning merupakan perpaduan
pembelajaran secara konvensional dan daring. Husamah (2013) menyatakan bahwa blended
learning mengkombonasikan ranah terbaik dari pembelajaran daring,
aktivitas tatap muka terstruktur, dan praktek dunia nyata.
Pendapat
lain diutarakan oleh Williams (2002), Osguthrope & Graham (2003) yang
menyatakan bahwa blended learning adalah pembelajaran campuran dari
pembelajaran tradisional dan online. Hal ini juga didefinisikan sebagai
integrasi alat e-learning seperti lingkungan belajar virtual dengan
pembelajaran tatap muka (Welker & Berardino, 2006). Tujuan dari jenis
pembelajaran ini adalah untuk menggabungkan keuntungan dari pembelajaran tatap
muka (PTM) di kelas dengan keunggulan e-learning untuk meningkatkan lingkungan
belajar.
Dalam
studi saat ini blended learning mengacu pada kombinasi online dan
metode tatap muka dalam menanggapi kebutuhan peserta didik dan untuk pencapaian
tujuan instruksional. Ini berarti bahwa banyak pendekatan, metode, dan sumber
daya untuk mengajar atau untuk proses pendidikan digabungkan dan dimanfaatkan
oleh guru yang sekarang mengharapkan peserta didik untuk belajar tidak hanya
dari halaman web dan komunikasi yang ditugaskan pada media/platform
pembelajaran (misalnya email, papan diskusi dan ruang obrolan) tetapi juga dari
kuliah tatap muka, tutorial, orang ke orang berdiskusi dan seminar. Contohnya
termasuk menggabungkan bahan berbasis teknologi dan bahan cetak tradisional,
studi kelompok dan individu, studi kecepatan terstruktur dan studi mandiri,
panggilan konferensi, tutorial, dan pelatihan. Jadi, dapat dikatakan bahwa blended
learning merupakan perpaduan antara pembelajaran tatap muka dan
pembelajaran teknologi yang merupakan pembelajaran yang menyesuaikan minat dan
kebutuhan peserta didik (Aji, 2017).
2.2.2
Langkah-langkah pelaksanaan model blended learning
Dalam
pelaksanaannya, model blended learning tentu harus dipersiapkan
dengan baik agar rancangan dan pelaksaannya sesuai dengan tujuan pembelajaran. Berikut
langkah-langkah model blended learning yaitu:
a. Plan the
integrated blended learning into your course followed by:
1) What
is the situation?
a)
Developing new course
b) Redesigning
course
2) What
is the course context?
a)
Course level considerations
b)
Program, Faculty, Group influences
3) Who
are the students?
a) Year
of study (1st year students or later year students)
b)
Class numbers (is it a large class or a small class)
c)
Student type (international or national students, students from a low/high socio-economic
background, age students, students with work/ family commitments)
b. Design and
develop the blended learning elements:
1)
Content and resources
a)
Lecturer materials
b)
Lecturer recordings
c)
Virtual classroom
2)
Digitized reading or documents
a)
Learning support resources
b)
Assessment
c)
Communication
c. Implementing
the blended learning design:
1)
Getting the students ready for blended learning
2) A
good ending
d. Review
(evaluate) the effectiveness of blended learning design)
1) Peer
evaluation
a)
“Classroom” performance
b)
Learning materials
2)
Student learning
a)
Student’s self-reported knowledge
b)
Student work
3)
Student experiences
a)
Informal feedback
b)
Student evaluation of teaching
c)
Customized course survey (Bath and Bourke (2010)
Dari langkah-langkah blended learning
tersebut, dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan model pembelajaran ini yang
perlu diperhatikan adalah ketersedian alat/sumber belajar, level peserta didik,
rancangan materi ajar, assessmen (penilaian) dan bagaimana komunikasi/interaksi
dapat dilakukan antara guru dengan peserta didik maupun peserta didik dengan peserta
didik lainnya.
2.2.3
Kelebihan dan kelemahan model blended learning
Sebagai
salah satu model pembelajaran di kelas, blended learning memiliki
kelebihan
dibandingkan dengan model pembelajaran lainnya yaitu: 1) Pembelajaran terjadi
secara mandiri dan konvensional yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat
saling melengkapi; 2) Pembelajaran lebih efektif dan efisien; 3) Meningkatkan
aksesabilitas; 4) Peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara
mandiri dengan memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara daring; 5) Peserta
didik dapat melakukan diskusi dengan pengajar atau peserta didik lain di luar
jam tatap muka; 6) Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik di
luar jam tatap muka dapat dikelola dan dikontrol dengan baik oleh pengajar; 7) Pengajar
dapat menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet; 8) Pengajar
dapat meminta peserta didik untuk membaca materi atau mengerjakan tes yang dilakukan
sebelum pembelajaran; 9) Pengajar dapat menyelenggarakan kuis, memberikan
balikan, dan memanfaatkan hasil tes secara efektif; 10) Peserta didik dapat
saling berbagi file atau data dengan peserta didik lain; 11) Memperluas
jangkauan pembelajaran/pelatihan; 12) Kemudahan implementasi; 13) Efisiensi
biaya; 14) Hasil yang optimal; 15) Menyesuaikan berbagai kebutuhan
pembelajaran; dan 16) Meningkatkan daya tarik pembelajaran
(Wicaksono & Rachmadyanti, 2020).
Walaupun
demikian, blended learning sebagai model pembelajaran PTM dan
daring masih memiliki celah untuk dikatakan kurang efektif karena memiliki
kelemahan sebagai berikut: 1) Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga
sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung; 2) Tidak
meratanya fasilitas yang dimiliki peserta didik, seperti komputer dan akses
internet. Padahal, blended learning memerlukan akses internet
yang memadai dan bila jaringan kurang memadai, itu tentu akan menyulitkan peserta
didik dalam mengikuti pembelajaran mandiri via daring; dan 3) Kurangnya pengetahuan
sumber daya pembelajaran (pengajar, peserta didik dan orang tua) terhadap
penggunaan teknologi (Husamah, 2013).
Kelemahan
tersebut bisa diminimalisir berdasarkan penelitian yang dilakukan Aini (2018), Astuti,
dkk (2021), Dewi, dkk (2020), Nasirah (2020), Nanthinii (2020), dan Wicaksono &
Rachmadyanti (2020). Menurut mereka bahwa ada banyak platform untuk
pembelajaran online seperti Zoom
meetings, Google Meet, WhatsApp, Google Classroom, dan lain-lain, namun pendidik tetap harus memilih
media/platform/aplikasi pembelajaran yang sesuai dengan fasilitas dan
gawai yang dimiliki guru serta peserta didik. Menurut mereka penentuan media pembelajaran
melalui google classroom (GC) sebagai keterbatasan bisa dilakukan.
Pembiasaan penggunaan salah satu aplikasi pembelajaran campuran (blended
learning) ini akan memberikan dampak positif dalam melaksanakan
pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR).
2.3
Google Classroom
sebagai Alternatif Platform Pembelajaran Jarah Jauh
2.3.1 Definisi Google Classroom
Google classroom berdasarkan blog IdCloudHost (2020) adalah suatu
serambi aplikasi pembelajaran campuran secara online yang dapat digunakan
secara gratis. Pendidik bisa membuat kelas mereka sendiri dan membagikan kode
kelas tersebut atau mengundang para peserta didiknya. aplikasi ini
diperuntukkan untuk membantu semua ruang lingkup pendidikan yang membantu peserta
didik untuk menemukan atau mengatasi kesulitan pembelajaran, membagikan
pelajaran dan membuat tugas tanpa harus hadir ke kelas.
Menurut Aini (2018) google classroom adalah
sebagai aplikasi online yang digunakan untuk kelas virtual sehingga peserta
didik dapat kapan saja dan di mana saja belajar menggunakan materi yang
disajikan oleh guru sebagai perancang kelas. Martinez-Mones, dkk (dikutip dalam
Alim, dkk, 2017) dan Astuti, dkk (2021) menyatakan bahwa google classroom
merupakan layanan berbasis Internet yang dirancang untuk memudahkan guru dan peserta
didik dalam mengirimkan tugas tanpa harus menggunakan kertas (paperless).
Ia mengatakan paperless karena platform ini memiliki banyak fitur yang
dapat memudahkan peserta didik dalam mengakses materi atau tugas yang diberikan
oleh guru.
Namun,
pengembangan google classroom
pada tahap awal di tahun 2014-2016 sebenarnya tidak diperuntukan untuk semua
orang, hanya bagi sekolah yang berkerjasama dengan google yang dapat
mengaksesnya. Lalu, di bulan Maret 2017 google classroom dapat
diakses oleh seluruh orang dengan menggunakan google pribadi. Hal ini yang
dapat dimanfaatkan oleh guru, peserta didik dan wali murid dalam pembelajaran, sehingga
tidak diperlukan kerjasama dengan google. Pemanfaatan secara terbuka
dapat memberikan keuntungan bagi pengguna google classroom (Wicaksono
& Rachmadyanti, 2020).
Gambar 2.1 Tampilan Google Classroom
2.3.2
Fungsi Google Classroom
Tujuan utama Google Classroom adalah sebagai
platform pembelajaran untuk merampingkan proses berbagi file antara guru dan peserta
didik dengan menggunakan: a) Google Drive untuk pembuatan dan
distribusi penugasan, b) Google Docs, Sheets, Slides untuk penulisan, c)
Gmail untuk komunikasi, dan d) Google Calendar untuk
penjadwalan. Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Shampa Iftakhar (2016) dengan judul Google Classroom:
What Works and How? diketahui bahwa google classroom sangat membantu
dalam memfasilitasi peserta didik untuk belajar. Guru dapat melihat seluruh
aktivitas peserta didik selama pembelajaran di google classroom karena interaksi
antara guru dan peserta didik terekam dengan baik.
Sedangkan, berdasarkan penilitian yang dilakukan
oleh Nanthinii (2020) dengan judul “A Study of Google Classroom as an Effective
LMS to Improve the LSRW Skills of ESL” diketahui bahwa google classroom dapat mendorong
lingkungan yang menguntungkan, interaktif, dan berpusat pada peserta didik dan
menjadi alternatif yang efektif untuk pembelajaran yang berpusat pada guru. Aplikasi
ini juga memungkin guru untuk dapat melacak kemajuan belajar peserta didik melalui
tugas dan kuesioner. Sehingga, platform ini cukup menjanjikan untuk
pembelajaran bahasa pada tingkat menengah sampai perguruan tinggi.
2.3.3
Fitur Google Classroom
Google Classroom, aplikasi besutan Google ini, menyediakan
berbagai fitur yang bisa dimanfaatkan para guru. Guru bisa memberikan materi
pelajaran, pekerjaan rumah, dan berinteraksi dengan peserta didiknya melalui
Google Classroom. Adapun fitur yang dimiliki oleh google classroom menurut Aini
(2018), Iftakhar (2016), Nanthinii (2020), Rizal (2020), dan Wicaksono & Rachmadyanti (2020) terdiri dari:
1) Stream (forum):
Menu ini berfungsi untuk sarana diskusi kelas antara guru dan peserta didik
terkait topik/tugas yang diberikan.
2) Classwork (tugas):
Menu ini memungkinkan guru untuk memberikan materi, tugas, pertanyaan, quiz,
dan sebagainya. Tugas bisa ditambahkan dengan sumber belajar berupa link berbagai
situs dari Internet, file word, Pdf, Video, dan atau melakukan video conference
melalui Google Meet. Pada menu ini juga, peserta didik dapat menyerangkan (submit)
tugas/pertanyaan sesuai dengan topik dan batasan waktu yang dijadwalkan.
3) People (anggota):
Dari menu ini guru dan peserta didik dapat mengetahui siapa yang sudah
bergabung di kelas dan mereka juga dapat mengirimkan e-mail ke guru atau
keanggota yang lain.
4) Mark (nilai): Menu
ini menyajikan hasil penilaian yang diberikan oleh guru berupa tabel nilai
disetiap pertemuan atau tugas yang diposting.
2.3.4
Kelebihan dan Kelemahan Google Classroom
Sebagai salah satu platform PJJ, google classroom
memiliki beberapa kelebihan yakni mudah digunakan, menghemat waktu, berbasis
cloud, fleksibel, dan gratis. Hal ini yang menjadi pertimbangan bahawa google classroom
tepat digunakan dari sekolah hingga perguruan tinggi. Meskpiun masih memiliki
kelemahan seperti tidak adanya layanan eksternal seperti bank soal secara
otomatis dan obrolan secara pribadi antara guru untuk mendapat umpan balik (Wicaksono
& Rachmadyanti, 2020). Dari penelitian yang dilakukan Nathinii (2020) juga menyebutkan
bahwa melalui GC peserta didik mampu melacak kemajuan, umpan balik dan nilai
secara langsung.
Sedangkan, Iftakhar (2016) lebih rinci memaparkan
kelebihan dari google classroom yaitu: 1) Sangat mobile Friendly untuk pemula didesain
dengan sederhana akan tetapi banyak fitur; 2) Mudah dalam mengelola tugas yang
diberikan karena materi yang diberikan otomatis tersampaikan ke laman peserta
didik dan bisa kita terima juga liwat email. Google Classroom memberikan bentuk
tugas atau materi dalam berbagai bentuk mulai dari dokumen, tulisan, foto,
gambar, dan masih banyak lagi file yang dapat dikelola; 3) Semua file masuk ke Google
Drive baik itu mp4, mp3, doc, pdf, zip dan masih banyak lagi, maka tidak
usah khawatir akan kehilangan file ataupun dokumen yang lainya. Itu semua sudah
tersimpan di Google Drive; 4) Mudah meninjau tugas sebelum dikirim, karena Google
Classroom menyediakan fitur melihat tugas sebelum dikirim dan bisa
diedit; 6) Bebas dari iklan dan aman bagi guru maupun peserta didik; 7)
Tersedia secara gratis di playstore ataupun appstore menggunakan
hand phone ataupun komputer.
Namun, Google Classroom juga memiliki
kelemahan berdasarkan penelitian yang dilakukannya dengan judul “A Study of
Google Classroom as an Effective LMS to Improve the LSRW Skills of ESL Learners”
antara lain: a) aktivitas pembelajaran kurang menarik bagi peserta didik; b)
sulit memahami tugas dan materi tanpa didukung penjelasan dari guru; dan c)
masih tergantung dengan jaringan Internet.
2.4 Karakteristik Pembelajaran Bahasa Inggris
dan Kompetensi Listening di SMK
2.4.1 Tujuan mata
pelajaran bahasa Inggris di SMK
Mata
pelajaran Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran adaptif yang berperan
menunjang pencapaian kompetensi program keahlian. Pembelajaran bahasa Inggris
di SMK bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan menguasai pengetahuan
dan keterampilan dasar Bahasa Inggris untuk mendukung pencapaian kompetensi
program keahlian. Pembelajaran Bahasa Inggris juga bertujuan dalam menerapkan
penguasaan kemampuan dan keterampilan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi baik
lisan maupun tulisan. Sehingga pada akhirnya secara maksimal mendukung
kompetensi bidang keahlian secara khusus yang dimiliki peserta didik. Peserta
didik akan mampu mengkomunikasikan keahlian dan berupa produk keahlian kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.
Mata
pelajaran Bahasa Inggris membekali peserta didik kemampuan berkomunikasi dalam
kehidupan sehari-hari sesuai dengan tuntutan global, serta membekali peserta
didik untuk mengembangkan komunikasi ke taraf yang lebih tinggi. Kompetensi
yang dimiliki merupakan kemampuan secara personal. Ketika ini mampu
dikomunikasikan dan bahkan sampai ketingkat global akan menjadi sebuah prestasi
yang gemilang. Kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulis menjadi sangat
penting.
2.4.2 Ruang lingkup mata
pelajaran bahasa Inggris di SMK
Berdasarkan
Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Kementerian
Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor: 07/D.D5/Kk/2018, pembelajaran bahasa Inggris
di SMK meliputi: a) kompetensi dasar pengetahuan (KD.3) yang mengarahkan
peserta didik agar mampu menganalisis fungsi sosial, struktur dan unsur
kebahasaan berbagai teks lisan dan tulis berupa teks transaksional, khusus dan
atau fungsional. KD ini berkaitan dengan kompetensi menyimak (listening)
dan membaca (reading) untuk menggali informasi tersirat maupun tersurat
dari teks yang disajikan; dan (2) kompetensi dasar keterampilan (KD.4),
berkaitan dengan kompetensi berbicara (speaking) dan menulis (writing)
yang menuntut peserta didik agar terampil dalam menyusun dan mengkomunikasikan berbagai
teks lisan dan tulis (transaksional, khusus dan atau fungsional) dengan
memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar serta
sesuai konteks penggunaannya.
Dari
KD pengetahuan dan keterampilan tersebut, materi pelajaran bahasa Inggris di
SMK untuk kelas X meliputi pembelajaran berbasis teks terkait jati diri dan
keluarga, ucapan selamat, ungkapan niat, deskriptif, pengumuman/pemberitahuan,
tindakan lampau (simple past tense vs present perfect tense), recount,
naratif, teks khusus (memo, menu, schedule dan signs), perbandingan kata sifat,
memberi dan meminta informasi tentang petunjuk arah (direction), dan kegiatan/tugas-tugas
rutin sederhana (simple routine tasks).
Untuk
kelas XI, materi bahasa Inggris yaitu berbagai jenis teks terkait saran dan
tawaran, meminta dan memberi pendapat (opini), meninggalkan pesan sederhana
lewat telephone, undangan resmi, surat pribadi, manual penggunaan
teknologi, passive voice, pengandaian, biografi tokoh dan hubungan sebab
akibat.
Sedangkan,
di kelas XII, materi pembelajaran bahasa Inggris meliputi teks yang berhubungan
dengan report, penyajian laporan, menawarkan bantuan dan jasa, surat
lamaran pekerjaan, wawancara pekerjaan, kewajiban/keharusan, berita, dan pengandaian
diikuti oleh perintah/saran.
2.4.3 Pembelajaran menyimak
(listening) di SMK
Perlu
diketahui bahwa kegiatan listening (menyimak) didefinisakan oleh Rost
(2011) sebagai salah satu proses komunikasi dimana pendengar mendengarkan
pembicara untuk menerima, menafsirkan dan memahami informasi yang disampaikan.
Keterampilan reseptif ini terlihat mudah dan sederhana, namun tidak semudah
yang dibayangkan, karena mendengarkan tidak hanya membutuhkan telinga untuk
menerima informasi tetapi juga membutuhkan pemikiran dan pengetahuan sebelumnya
guna menafsirkan dan memahami ucapan yang disampaikan dengan benar.
Pada
konteks SMK, keterampilan menyimak terkait dengan semua kompetensi dasar
pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan konteks.
Kegiatan ini adalah langkah awal atau sebagai keterampilan reseptif selain
kegiatan membaca (reading) untuk menggali informasi awal pada berbagai jenis
teks transaksional lisan. Oleh karena itu, kegiatan menyimak sering dilakukan
guru pada pertemuan awal atau pada tahapan observasi atau mengumpulkan
informasi di pendekatan saintifik (5 M).
Kegiatan
pembelajaran menyimak bahasa Inggris dapat dilakukan dengan berbagai teknik.
Menurut Fachrurrazy (2014) dalam bukunya “Teaching English as Foreign Language
for Teachers in Indonesia” bahwa kegiatan menyimak di kelas bisa dilakukan
dengan cara: a) listening for perception (mendengarkan untuk persepsi)
yaitu peserta didik dapat diberi latihan dalam mengidentifikasi bunyi yang
berbeda (different sounds), kombinasi suara (sound combinations),
dan intonasi (intonations) dengan tepat; b) listening for comprehension
(mendengarkan untuk pemahaman) yaitu pertama, terdiri dari latihan-latihan
dimana para peserta didik hanya mendengarkan tanpa harus membuat tanggapan
secara terbuka atau hanya berupa perintah. Kedua berupa respon minimal
(biasanya non-verbal). Hal ini dilakukan untuk mendemontrasikan pemahaman
berupa respon singkat. Ketiga, respon bersifat lebih panjang dan bisa
melibatkan keterampilan membaca, berbicara, menulis, dan berpikir kritis
tentang sebuah masalah. Terakhir, mendengarkan sebagai dasar studi dan diskusi.
Selanjutnya,
Tcagley (2016) mengkonsepkan 3 level dari comprehensif listening dalam
memahami gagasan, ide dan pesan atau tugas berdasarkan teks lisan sebagaiman
dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1 Level Menyimak untuk
Pemahaman
|
Level Menyimak untuk Pemahaman |
||
|
Informational (Listening to
learn) |
Critical (Listening to
evaluate and analyze) |
Therapeutic or Empathic (Listening to
understand feeling and emotion) |
|
Kegiatan menyimak
untuk mempelajari atau diinstruksikan untuk menemukan intisari (untuk
mendapatkan ide pokok) dan untuk menemukan detail (untuk mendapatkan
informasi yang spesifik). |
Mendengarkan
untuk memecahkan masalah atau membuat keputusan. |
Mendengarkan
untuk memahami perasaan dan emosi pembicara untuk menempatkan pendengar pada
posisi pembicara dan berbagi pemikiran mereka. |
Sumber:
Diadaptasi dari Tcagley (2016)
Sedangkan,
Houston (2016) menyatakan berupa tiga tahapan dari aktivitas menyimak di kelas
atau laboraturium bahasa. Tahap pertama, pre-listening yaitu sebagai
aktiviatas persiapan berupa menebak topik, atau seberapa tahunya peserta didik
terkait topik yanga akan dipelajari. Tahap kedua, whilst-listening yaitu
untuk menemukan informasi umum, informasi rinci/khusu dan kesmpulan terkait
pendapat mereka mengenai teks lisan yang disajikan. Tahap ke-3, post-listening
yaitu sebagai tahap pembahasan, evaluasi dan tindak lanjut dengan menunjukkan
transkrip untuk mendeteksi kesalahan pemahaman dan masalah yang dihadapi peserta
didik.
2.4.4 Teks Interaksi transaksional
wawancara pekerjaan
Materi wawancara pekerjaan (job interview) termasuk kedalam KD. 3.29 (pengetahuan) dan 4.29 (keterampilan)
untuk kelas XII sebagimana dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut:
Tabel. 2.2 Kompetensi Dasar dari Materi Wawancara
Pekerjaan
|
Kompetensi
Dasar |
Kompetensi
Dasar |
|
4.29 Menyusun
teks interaksi transaksional lisan yang melibatkan tindakan memberi dan
meminta informasi terkait jati diri dalam konteks pekerjaan (wawancara
pekerjaan), dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur
kebahasaan yang benar dan sesuai konteks penggunaannya di dunia kerja. |
Berdasarkan KD tersebut diketahui bahwa wawancara
pekerjaan termasuk kedalam teks interaksi transaksional. Menurut Alawiyah
(2018) teks transaksional adalah teks yang digunakan untuk
berkomunikasi/berhubungan dengan orang lain. Tujuan dari jenis teks ini adalah
untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dari lawan bicara. Oleh karena
itu, kebanyakan teks transaksional adalah berbentuk percakapan/dialog lisan
maupun tulis.
Job interview adalah wawancara yang dilakukan oleh karyawan atau manajer
personalia terhadap pelamar pekerjaan. Bagian personalia menanyakan hal-hal
tentang data diri pelamar dan beberapa pertanyaan terkait posisi yang akan ditempati
oleh pelamar. Dalam kesempatan itu, pelamar juga dapat menceritakan keahlian
dan pengalamannya sebagai bahan pertimbangan untuk bagian personalia, sekaligus
menunjukkan bahwa yang bersangkutan pantas berada di posisi tersebut (Savitri,
2021).
Wawancara dalam bahasa Indonesia mungkin saja tidak terlalu sulit karena pemahaman akan bahasa Indonesia pasti lebih baik dibandingkan dengan wawancara dalam bahasa lain seperti bahasa Inggris. Terlebih lagi, di SMK terkait KD wawancara pekerjaan, peserta harus menganalisis fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaannya. Fungsi sosial dari wawancara pekerjaan adalah menjelaskan identitas diri dan potensi keahlian untuk meyakinkan orang lain agar dapat diterima sebagai partner kerja atau karyawan yang baik. Struktur teks wawancara pekerjaan, misal: a) Could you tell me about what kind of person you are?; b) Could you tell me about your educational background?; c) Would you tell me about your skills?; d) Can you tell me about your last job?; e) Can you work under the target and pressure?; f) Would you say about your strength?; g) Would you say about your weakness?; h) What is your goal for your future?. Sedangkan, unsur kebahasaan wawancara pekerjaan adalah: a) kosa kata dan tata bahasa baku; b) ucapan, tekanan kata, dan intonasi; c) ejaan dan tanda baca, dan d) penggunaan Wh-questions dan Yes-No question (Fakhruddin, 2018).
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Implementasi model Blended-Learning
menggunakan Google Classroom
Model pengembangan blended learning yang
digunakan oleh guru di satuan pendidikan hampir semuanya berupa model campuran
(hybrid learning). Model ini memungkinkan pelaksanaan
pembelajaran dengan sistem tatap muka (luring) dan atau secara daring (online).
Salah satu flatform dari blended leraning adalah Google Classroom
(GC). Melalui GC, kapan pun dan dimanapun saja guru dapat memberikan tugas ke siswa
begitu juga sebaliknya dengan siswa yang bisa mengakses dan menyerahkan tugas
sesuai dengan jadwal yang ditentukan.
Selain itu, GC juga memungkinkan pembelajaran daring dapat
dilangsungkan secara sinkronus maupun asinkronus. Iftahar (2016) menyatakan bahwa
sekolah dapat mengadopsi ruang kelas virtual sinkron yang memungkinkan mereka
berinteraksi dengan siswa secara "real time" menggunakan GC. Sinkronus
adalah interaksi pembelajaran antara guru dan siswa yang dilakukan pada waktu
bersamaan dengan menggunakan teknologi misalnya pembelajaran melalui video
conference di zoom meeting atau Google Meet,
chatting atau forum diskusi di WhatsApp, Telegram dan lainnya.
Sedangkan, asinkronus adalah pembelajaran yang dilakukan secara
fleksibel dan tidak harus dalam waktu yang sama, misalkan belajar mandiri di
ruang guru, penugasan yang bisa diserahkan sebelum waktu yang ditentukan di GC,
dan lain sebaginya.
Namun, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas baik
dengan sistem luring maupun daring tentu saja harus didasarkan pada rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yang baik. Begitu juga pada GC, semua materi atau tugas
harus merujuk pada RPP agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tujuan
pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran dan penilaian
pembelajaran. Untuk model blended learning menggunakan GC dapat
mengadaptasi kegiatan pembalajaran berdasarkan paparan dari Pratiwi, Parijo & Warneri (2020) yaitu sebagai
berikut: 1) Guru meng-upload materi pembelajaran pada aplikasi/platform
pembelajaran online, 2) Guru menyapa kondisi siswa dan menginformasikan kepada
siswa untuk mempelajari materi yang sudah di-upload 3) Guru mengecek kehadiran
siswa, 4) Guru menjelaskan materi ajar dengan memaparkan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai siswa dalam materi/tugas, 5) Guru memotivasi, membimbing
siswa untuk mendapatkan informasi tambahan dari berbagai sumber untuk memahami
materi pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berdiskusi
atau melakukan tanya-jawab terkait hal yang belum dimengerti, 6) Guru memberikan
evaluasi melalui aplikasi pembelajaran online dalam bentuk kuis maupun
essai (soal uraian) yang telah dipersiapkan. 7) Guru melakukan penilaian berupa
reward, skor atau tanggapan terkait tugas yang dikerjakan.
3.2
Pembelajaran listening melalui Google
Classroom dalam Upaya Meningkatan Kemampuan Menyimak Terkait Wawancara
Pekerjaan
Keterampilan
menyimak adalah bagian dari empat keterampilan dasar dalam bahasa Inggris
selain berbicara, membaca dan menulis. Menyimak menjadi aspek penting dalam
menguasai bahasa Inggris, karena melalui keterampilan ini pembelajar bahasa
dapat menerima dan menafsirkan pesan dalam proses komunikasi. Dengan demikian,
keterampilan menyimak merupakan salah satu keterampilan reseptif untuk
komunikasi yang efektif. Tanpa ketidakmampuan untuk mendengarkan secara efektif
menyebabkan miskomunikasi atau salah pemahaman.
Siswa
sering menghadapi ketidakmampuan untuk memahami pesan yang diterima saat mereka
sedang pembelajaran menyimak bahasa Inggris. Mubarok (2015) menyatakan bahwa ada
beberapa faktor yang mempengaruhi pembelajaran menyimak seperti tidak ada
pasangan untuk siswa dalam berkomunikasi secara baik dan benar, materi/latihan
yang terbatas dalam melatih keterampilan menyimak siswa, dan tidak memiliki
aplikasi atau sumber yang dapat mendukung kegiatan menyimak yang efektif. Jadi,
inilah sebabnya mengapa dalam mengajarkan keterampilan menyimak, guru harus
menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajar.
Terlebih
lagi disaat pandemi ini, pembelajaran bhasa Inggris termasuk keterampilan menyimak
hanya dapat dilakukan melalui pembelajaran secara daring karena sekolah tidak
diperkenankan PTM. Oleh karena itu, salah satu alternatif platform untuk pembelajaran
daring yaitu dengan menggunakan Google Classroom (GC). GC
adalah platform pembelajaran campuran (luring dan daring) yang dapat
menyederhanakan kegiatan pembelajaran seperti pembuatan tugas dan penilaian
guru. Pernyataan ini sesuai dengan penelitian dari Aini (2018) yang memeparkan
bahwa penerapan GC sebagai media pembelajaran memungkinkan proses pembelajaran
online akan berjalan lancar. Siswa juga bisa belajar mandiri di rumah dengan
mempelajari materi yang diberikan oleh guru dan pengiriman tugas tepat waktu,
karena platform ini dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Guru akhirnya
dapat dengan mudah memantau kehadiran siswa melalui absen online yang
didistribusikan melalui GC dan memberikan tanggapan atau nilai setelah siswa
mengirimkan tugas. Oleh sebab itu, platform ini memungkinkan guru memfasilitasi
pembelajaran menyimak dengan lebih efektif misalnya menggunakan media online
dari British Council dan video YouTube.
3.2.1 Penggunaan Google
Classroom dengan media online British Council
GC
diketahui mempunya berbagai fitur. Salah satu fiturnya yaitu “Tugas Kelas atau
Classwork” yang merupakan fitur utama untuk memberikan materi, tugas, kuis, dan
atau pertanyaan. Tugas yang dikirm ke siswa dapat disertai dengan link dari
Internet, file word/Pdf, audio, video, atau langsung terhubung dengan YouTube.
Untuk
dapat mengakses fitur ini, guru hanya perlu mengklik menu “Tugas Kelas atau
Classwork” pada GC, pilih “Create” lalu tampil “assignment, quiz assignment,
question, and material”. Jika ingin membuat pertanyaan, maka pilih “pertanyaan”,
lalu isi judul pertanyaan dan buat deskripsi tugas. Pada deskripsi tugas ini,
guru dapat mencantumkan link (misalanya British Council) dan
pertanyaan yang akan dikerjakan siswa. Apabila, ketentuan tugas/pertanyan
seperti topik, poin/skor dan batas waktu pengerjaan sudah diisi semua, klik
“Tugaskan (ditugasakan sekarang)” atau “Jadwalkan (ditugasakan sesaui
kalender/jadwal yang ditentukan)”. Contoh penerapannya dapat dilihat pada
Gambar 3.1. berikut ini.
Gambar
3.1 Tugas pada Google Classroom dengan Media British Council
British
Council (BC) adalah platform pembelajaran bahasa
Inggris secara online untuk mengembangkan keempat keterampilan bahasa melalui
melalui kursus dan sumber daya berkualitas tinggi. Platform ini dapat diakses
di https://learnenglish.britishcouncil.org/. Fitur yang ditawarkan yaitu antara
lain: a) online courses, skills (listening, speaking, reading, and writing),
b) grammar (beginner to pre-intermediate), c) vocabulary
(beginner to pre-intermediate), d) business English (business magazine,
podcasts for professional, English for emails), e) general English
(video zone, audio zone, magazine zone, story zone, audio series, and video
series), dan f) IELTS (International English Language Testing System).
Fokus
ke keterampilan menyimak, keterampilan ini dapat diakses pada BC melalui menu
“skills”. Setelah itu, untuk akses ke latihan listening, pembelajar hanya perlu
mengklik menu “listening”. Pada menu ini, BC menyediakan berbagai macam latihan
mandiri pada menu “listening” untuk meningkatkan pemahaman dan pengucapan dari
level untuk beginner intermediate, dan sampai ke advanced. Hal ini dapat dilihat pada websitenya yang
menegaskan bahwa:
a)
Listening will help you to improve your
understanding of the language and your pronunciation; and
b)
The self-study lessons in this section are
written and organised according to the levels of the Common European Framework
of Reference for languages (CEFR). There are recordings of different situations
and interactive exercises that practise the listening skills you need to do
well in your studies, to get ahead at work and to communicate in English in
your free time. The speakers you will hear are of different nationalities and
the recordings are designed to show how English is being used in the world today.
(https://learnenglish.britishcouncil.org/skills/listening).
Pemilihan
level dan topik pembelajaran merupakan langkah selanjutnya yang harus
ditentukan. Terkait dengan topik wawancara pekerjaan, ternyata materini berada di
level Advance C1 (lih. Gambar 3.2). Level ini menyediakan latihan
mendengarkan untuk membantu memahami ucapan yang diperluas tentang topik yang
abstrak, kompleks, atau asing. Situasinya berkaitan dengan wawancara kerja,
kuliah, pembicaraan dan pertemuan.
Gambar 3.2 Salah satu Level dan
Topik yang Disajikan dari Latihan Listening pada British Council
Pada
latihan menyimak wawancara pekerjaan, BC menyediakan empat fitur untuk
meningkatan kemampuan listening terkait materi tersebut. Fitur yang
disediakan sebagaimana yang ditunjukkan Gambar 3.3 terdiri dari: a) preparation
task (latihan persiapan terkait singkatan yang ada pada teks listening);
b) audio recording (rekaman suara/percakapan yang tidak bisa didownload
tapi bisa diatur untuk diplay-back (diputar ulang) sesuai dengan
kebutuhan); c) transcript (teks tertulis untuk mengecek pemahaman ucapan/kata
yang didengarkan); dan d) practise a variety of listening skills
(latihan menyimak yang beragam terdiri dari 2 tugas yang harus dikerjakan). Tugas
yang dikerjakan pada BC akan otomatis dinilai oleh sistem terkait jawaban yang
benar dan salah. Selain itu, pembelajar bisa melakukan latihan ulang lagi agar
mendapat skor yang maksimal.
Gambar 3.3 Display Latihan Listening
pada Level Advanced C1 terkait Wawancara Pekerjaan
Hasil
pembelajaran melalui British Council dapat dilihat pada Lampiran
3a yang menunjukan bahwa 10 peserta didik atau 76,92% telah mencapai KKM
berdasarkan kegiatan pembelajaran listening melalui British Council. Sedangkan,
hanya sebanyak 3 peserta didik atau 23,08% yang belum mencapai KKM. Dengan
demikian, ketuntasan belajar atau daya serap klasikal yang dicapai adalah 76%.
Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran pada pertemuan ke-24 melalui media
online British Council terkait wawancara pekerjaan dapat
dinyatakan berhasil atau meningkat karena mencapai kriteria ketuntasan klasikal
≥ 75 % peserta didik mencapai KKM.
Dengan
demikian, sebagai media online British Council mempunyai
signifikasi yang positif untuk bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa
asing dalam kegiatan menyimak, karena difasilitasi dengan audio antentik,
latihan yang menarik dan refresentatif serta dapat dilakukan secara mandiri kapanpun
dan dimanapun. Hal ini juga sejalan dengan penelitian “Students’
Perception toward the use of British Council Application in Listening Subject”
yang dilakukan oleh Mandasari (2020) diketahui bahwa
BC mempunyai pengaruh yang sangat postif terhadap aspek pengetahuan,
keetampilan dan sikap peserta didik dalam pembelajaran menyimak, karena
aplikasi BC dapat mendorong peeningkatan pemahaman bahasa Inggirs melalui
materi yang autentik dan menarik.
Penelitian
lain yang relevan juga menyatakan bahwa fitur yang ada pada BC disertai dengan
audio, podcast maupun videonya lebih bagus dari pada belajar listening
dengan hanya menggunakan rekaman konvensional. Sebagaimana, Ningtias,
Prastikawati & Wahyuni, (2021) pada penelitian mereka yang berjudul “British
Council Podcast Apps to Improve Students’ Listening Comprehension”
mengidikasikan bahwa BC mempunya kontribusi yang lebih baik dimasa sekarang
untuk kegiatan listening dan penggunaan teknologi, karena siswa memiliki
kesempatan untuk belajar di mana saja dan kapan saja dengan fitur yang
disediakan BC secara online. Selain itu, Movahedi, Lotfi
& Sarkeshikian (2017) dari penelitian mereka yang berjudul “Iranian EFL
Learners’ Attitudes toward Using British Council Video Clips and Podcasts for Listening
Comprehension” menemukan bahwa situs web British Council sebagai
sumber online resmi menawarkan banyak video dan podcast menarik dan menciptakan
situasi kehidupan nyata bagi pelajar EFL untuk meningkatkan keterampilan
menyimak mereka.
3.2.2 Penggunaan
Google Classroom dengan media video YouTube
British
Council sebagi situ online dalam mempelajari bahasa Inggris tentu menyediakan
berbagai audio, video, ataupun podcast untuk keterampilan menyimak bahasa
Inggris, akan tetapi dalam topik tertentu kadang hanya 1 atau 2 audio maupun
video yang tersedia. Untuk itu, guru perlu sumber/media online yang lain
sebagai bahan/materi listening peserta didik. Alternatif lain yaitu
dengan menggunakan YouTube sebagai media pembelajaran yang digunakan pada GC.
Untungnya,
GC mempunyai fitur yang memungkin guru memberikan materi pembelajaran dengan
berbagai sumber dengan mencantumkan link situs dari YouTube atau sumber lain
dan atau menambahkan file audio atau video yaitu pada menu classwork
(tugas). Astuti, dkk (2020) juga menegaskan bahwa GC memiliki fitur yang
terhubung langsung ke YouTube pada menu tugas, sehingga dapat memudahkan guru
untuk membagikan tautan ke materi pembelajaran bahasa Inggris berupa video
pembelajaran untuk membantu siswa mendapatkan informasi tambahan yang dapat
membantu meningkatkan keterampilan bahasa Inggris mereka.
Untuk
mencantumkan link situs dari YouTube atau sumber lain, guru hanya perlu
mengklik menu “Tugas Kelas atau Classwork”, dan pilih “Create” lalu tampil
“assignment, quiz assignment, question, and material”. Jika ingin membuat
pertanyaan, maka pilih “pertanyaan”, lalu isi judul pertanyaan dan buat
deskripsi tugas. Pada deskripsi tugas ini, guru dapat mencantumkan link video
pembelajaran dari YouTube dan pertanyaan yang akan dikerjakan siswa. Apabila, ketentuan
tugas/pertanyan seperti topik, poin/skor dan batas waktu pengerjaan sudah diisi
semua, klik “Tugaskan (ditugasakan sekarang)” atau “Jadwalkan (ditugasakan
sesaui kalender/jadwal yang ditentukan)”. Contoh penerapannya dapat dilihat
pada Gambar 3.4.
Gambar
3.4 Tugas Google Classroom Menggunakan Link YouTube pada Bagian
Deskripsi Tugas
Sedangkan
untuk tugas menyimak yang langsung terhubung ke YouTube, guru perlu mengklik
menu “Tugas Kelas”, “Create” dan pilih
“Pertanyaan”. Kemudian isi judul dan deskripsi pertanyaan tersebut. Lalu klik
“Tambahkan”. Untuk melampirkan video pembelajaran dari YouTube, guru hanya
perlu mengklik simbul YouTube pada menu bagian bawah sebagaimana yang
ditunjukkan Gambar 3.5 berikut.
Gambar
3.5. Display Fitur untuk Terhubung dengan Video YouTube secara Langsung pada
Google Classroom
YouTube
tentu saja mempunyai beragam video yang biasa dijadikan sumber belajar terutama
pada kegiatan menyimak. Terkait materi wawancara pekerjaan, video YouTube yang
berkaitan dengan materi tersebut dapat diakses pada link berikut, antara lain: a)
https://youtu.be/hQEeGqZxhgA,
b) https://youtu.be/Rl6AIHUskl0,
c) https://youtu.be/4CkAJ_ac7zk,
d) https://www.YouTube.com/watch?v=ExJZAegsOis.
Sementara, tugas yang diberikan guru bisa berbentuk latihan
pengucapan, merangkum (fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan), soal
pilihan ganda, essai (urain), benar-salah, melengkapi pernyataan/informasi pada
dialog rumpang, menyusun informasi acak, retelling (menceritakan
kembali), diskusi, dan lain-lain.
Pada
pertemuan ke-25 (Lampiran ke 2b) peneliti melakukan pembelajaran listening
menggunakan video YouTube terkait materi wawancara pekerjaan dengan kegiatan
pembelajaran, hasil pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa hanya 2 peserta
didik (15,38%) yang belum mencapai KKM. Sedangkan, 11 peserta didik lainnya
atau 83,46% sudah tuntas dalam mencapai tujuan pembelajaran atau KKM yang
diharapkan. Dengan demikian, penggunaan video YouTube dapat dinyatakan juga
berhasil dalam meningkatkan hasil pembelajaran karena lebih dari 75 % peserta
didik mencapai KKM (ketuntasan klasikal).
Beberapa
penelitian yang relevan telah dilakukan terkait penggunaan video YouTube untuk
meningkatkan kemampuan menyimak. Lestari (2019) pada penelitian tindakan kelas
yang dilakukan dengan judul “The Use of YouTube Vlog to Improve the
Students’ Listening Skill of MTs Samarinda” menunjukkan bahwa lebih dari
75% siswa berdasarkan skor individu pada keterampilan menyimak telah mencapai
KKM, karena penggunaan video YouTube yang memungkinkan mereka dapat menyimak
ucapan bahasa Inggris dengan lebih baik melalui bantuan audio-visual dan
transkrip (subtitle) yang ada pada video YouTube.
Kemudian,
penelitian dengan judul “The Effect of Using YouTube as a Teaching
Media on the Students’ Listening Skill” yang dilakukan Rizkan, Mukhaiyar
& Refnaldi (2019) mengindikasikan bahwa YouTube dapat digunakan sebagai
bahan ajar yang dapat membantu pendidik untuk mengembangkan proses pengajaran sehingga
siswa mendaptkan pemahaman yang jelas terkait kegiatan menyimak yang lebih
efektif dari pada hanya menggunakan audio-recording (rekaman). Selain itu, Qomariyah,
Permana, & Hidayatullah (2021) dari hasil “The Effect of YouTube
Video on Students’ Listening Comprehension Performance”
juga menunjukkan bahwa siswa merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk
belajar mendengarkan pemahaman dengan menggunakan video YouTube sebagai
media pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung di kelas.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa YouTube bisa dijadikan sebagai media
alternatif untuk listening yang cukup efektif di kelas luring maupun
daring. Sebagimana, Karkera & Chamundeshawari (2018) dan Shafwati,
dkk menegaskan video YouTube sebagai penyedia video terbesar di
internet, tentu saja dapat digunakan pendidik sebagai media dalam meningkatkan pemahaman
menyimak siswa dan juga dapat menjadi sumber pembelajaran mandiri dengan
berbagai isu atau topik terbaru.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Google
classroom sebagai alternatif platform model blended learning
(pembelajaran secara luring dan daring) sangat membantu dalam memfasilitasi
peserta didik untuk belajar mandiri dari rumah, memfasilitasi peserta didik maupun
guru melalui fitur stream, chat room dan classwork, memantau
kehadiran peserta didik melalui absen online yang didistribusikan melalui GC, dan
memberikan tanggapan atau nilai setelah peserta didik mengirimkan tugas pada
fitur mark. Dengan demikian, platform ini juga memungkinkan guru
memfasilitasi pembelajaran menyimak dengan lebih efektif misalnya menggunakan
media online dari British Council dan video YouTube pada menu
“tugas/classwork”.
Pada
latihan menyimak wawancara pekerjaan, British Council menyediakan
fitur pra-latihan, rekaman suara untuk listening, teks tulis listening (script),
dan latihan yang dilengkapi dengan soal. Sumber atau media online lain sebagai alternatif
bahan (materi) listening peserta didik juga bisa menggunakan YouTube.
Terkait materi wawancara pekerjaan, YouTube tentu saja menyediakan lebih
banyak video wawancara pekerjaan dibandingkan dengan British Council dengan
kegiatan pembeajarn yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan level
peserta didik.
Hasil
pembelajaran listening melalui media online British Council
dan juga menggunakan video YouTube terkait wawancara pekerjaan pada GC
mengindikasikan bahwa model Blended Learning yang
diimplementasikan di kelas daring sangat signifikan untuk meningkatkan
keterampilan menyimak siswa. Hal ini dikarenakan oleh adanya peningkatan skor
yang diperoleh peserta didik yaitu lebih dari 75 % mencapai kriteria ketuntasan
atau KKM secara klasikal pada tiap pertemuan: pertemuan ke-24 yaitu 76,92% dan
pertemuan ke-25 sebesar 84,62%.
4.2
Saran
Sebagai
tindak lanjut dari pembahasan dan kesimpulan, penulis menyarankan, antara lain:
a.
Agar peserta didik terus semangat
dan aktif dalam mengikuti pembelajaran menggunakan platfom online untuk
meningkatkan sikap (karakter), pengetahuan, dan keterampilan khususnya pada
mata pelajaran bahasa Inggris, walaupun masih dalam kondisi belajar dari rumah.
b.
Agar guru sebagai
pendidik tetap mampu untuk berinovasi dan berkreasi dalam menentukan strategi pembelajaran
berbasis blended learning; dan
c.
Agar makalah ini dapat
menjadi dasar dalam penyusunan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk mengatasi
persoalan terkait peningkatan keterampilan menyimak mata pelajaran Bahasa
Inggris yang dilakukan secara daring.
Komentar
Posting Komentar