BLENDED LEARNING MENGGUNAKAN GOOGLE CLASSROOM DENGAN MEDIA ONLINE BRITISH COUNCIL DAN VIDEO YOUTUBE

 

MAKALAH TINJAUAN ILMIAH

 

 

 

IMPLEMENTASI BLENDED LEARNING MENGGUNAKAN GOOGLE CLASSROOM 

DENGAN MEDIA ONLINE BRITISH COUNCIL DAN VIDEO YOUTUBE 

UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI LISTENING 

PESERTA DIDIK TERKAIT TEKS 

WAWANCARA PEKERJAAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

HAIRUDIN RAHMAN, S.Pd.I., M.Pd

NIP. 19831009 200904 1 001

 

 

 

 

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMK NEGERI 1 HARUAI

2021




 

BAB I

PENDAHULUAN

 

              1.1   Latar Belakang Masalah

 

Pembelajaran bahasa Inggris di SMK merupakan upaya penguasaan bahasa asing atau target sesuai dengan kompetensi keahlian peserta didik berupa English for Specific Purposes. Hal ini penting sebagai daya dukung dalam mengembangkan wawasan, kompetensi kompetensi keahlian dan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 07/D.D5/Kk/2018 tentang kompetensi inti dan kompetesnsi dasar mata pelajaran bahasa Inggris SMK juga diketahui bahwa dalam mempelajari bahasa Inggris, peserta didik diharapakan dapat menganalisis berbagai teks dan mengkomunikasikannya dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.

Dalam mencapai tujuan tersebut, tentu saja peserta didik perlu mempelajari bahasa Inggris secara bertahap dan terintegrasi kedalam empat keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Keterampilan awal yang harus dipelajari yaitu listening. Ghaderpanahi (2012) menegaskan bahwa anak-anak mendengarkan dan merespons suatu bahasa sebelum mereka dapat berbicara. Ketika anak ingin membaca, mereka juga masih harus mendengarkan untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan kosakata.

Meskipun sebagai keterampilan awal dalam mempelajari bahasa untuk memperoleh input, bukan berarti keterampilan menyimak lebih mudah untuk dipelajari atau diajarkan ke peserta didik dibandingkan dengan keterampilan lainnya. Permasalahan yang sering muncul di kelas berdasarkan opini peserta didik adalah kegiatan listening sangat sulit. Mereka menyatakan bahwa ucapan penutur asli berbeda dengan bahasa ibu mereka sehingga teks lisan menjadi susah dicerna, tidak dimengerti dan terasa cepat didengar.

Permasahan ini sejalan dengan pernyataan Ummah (2012) yang menegaskan bahwa keterampilan mendengarkan bahasa inggris yang diucapkan secara verbal (spoken English) merupakan salah satu keterampilan yang ada dalam English language skills. Memahami kata atau kalimat bahasa Inggris yang diucapkan oleh penutur asli (native speaker) merupakan suatu persoalan yang sangat kompleks yang dihadapi oleh orang yang belajar bahasa kedua.

Dari referensi lainnya diketahui bahwa keterampilan menyimak juga mempunyai beberapa tantangan di kelas EFL (bahasa Inggris sebagai bahasa asing). Gilakjani dan Sabouri (2016) menyebutkan bahwa tantangan tersebut antara lain: (1) rendahnya kualitas bahan rekaman; (2) kurangnya keaslian; (3) konteks budaya yang berbeda terhadap pemahaman peserta didik; (4) aksen asing antara native dan non-native tentunya akan mengganggu proses pemahaman peserta didik; (5) tingkat kosakata yang asing atau tinggi yang tidak digunakan secara tepat dalam konteks peserta didik sehingga membuat mereka bingung; dan (6) kecepatan dan lamanya menyimak menyebabkan peserta didik tidak mudah fokus pada teks atau kegiatan menyimak. Beberapa persoalan dan tantangan yang disampaikan merupakan permasalahan yang sering dihadapi guru bahasa Inggris dalam meningkatkan kemampuan menyimak sebagai bahasa asing di kelas.

Selain permasalahan terkait kegiatan menyimak, kini guru dan peserta didik di tahun 2020 hingga dipenghujung tahun 2021 masih dihadapkan dengan tantangan berupa Corona Virus Diseases (COVID-19) sebagai wabah nasional. Untuk menghindari penyebaran virus tersebut di masyarakat, diberlakukanlah Pembatasan Pelaksanaan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 01 Tahun 2021 yang membatasi sejumlah kegiatan; dari bekerja, beribadah, berwisata, bersekolah dan lainnya. Pembatasan kegiatan di sekolah berwujud larangan pembelajaran tatap muka (PTM) dan diarahkan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR) berupa pembelajaran online (e-learning). Sistem pembelajaran ini menuntut guru untuk melek IT atau teknologi informasi dan mengharuskan peserta didik berpartisipasi aktif mengikuti pembelajaran dari rumah dengan gawai yang dimiliki.

Hadirnya kegiatan PJJ ataupun BDR ternyata menimbulkan pro dan kontra dikalangan pendidik, peserta didik maupun orang tua wali. Masalah yang muncul kenbanyakannya terkait keterbatasan gawai yang dimiliki, belum siapnya penguasaan teknologi, dan kurang efektifnya pembelajaran daring dibandingkan dengan kegiatan tatap muka dikelas. Bak simalakama, di tengah kekhawatiran penularan dan tertular virus COVID-19, maka pilihan kebijakan terbaik mana yang harus dipilih; sekolah tatap muka atau masih dengan pembelajaran jarak jauh/daring, dan atau juga sistem daring-luring (blended learning)?

 

Per Oktober 2021, ternyata pemerintah masih belum memperkenankan sekolah melakukan kegiatan tatap muka dan masih kekeh agar tetap menggelar pembelajaran secara online. Hal ini dikarenakan, tujuan utama dari pembelajaran online/e-learning adalah untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang semakin meningkat dan hanya bisa dilakukan dengan cara daring. Sunardi, dkk (2020) menegaskan bahwa pembelajaran daring atau e-laerning sangat tepat dilakukan pada saat pandemi karena pembelajaran ini merupakan tuntutan sistem pembelajaran terkini. Daryanto (2013) menyatakan bahwa pembelajaran daring adalah proses pembelajaran secara elektronik menggunakan media Internet, komputer, dan file multimedia berupa teks, suara, gambar, animasi dan video. Yang dimaksud elektronik disini bukan semata-mata peralatannya, melainkan metode dan medianya. Hal ini terkait dengan bagimana guru berbagi ilmu pengetahuan, mendownload materi pembelajaran, mengupload tugas, melakukan diskusi dan sebaginya dilakukan secara elektronik.

Tak disangkal lagi, guru sebagai agen of change memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menanggapi perubahan sistem pembelajaran dan penggunaan teknologi. Sejalan dengan paparan Nasirah (2020), Mubarok (2015),  dan Wicaksono & Rachmadyanti (2020) yang menegaskan bahwa teknologi dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dan tentu saja harus sejalan. Blended learning adalah salah satu solusi yang bisa dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran jarak jauh (daring).  

Blended learning adalah kesempatan untuk mengintegrasikan inovasi dan teknologi yang ditawarkan oleh pembelajaran daring dengan interaksi dan partisipasi pembelajaran konvensional. Husamah (2013) dan Thorne (dalam Sjukur, 2012) juga menegaskan bahwa model pembelajaran blended learning merupakan kegiatan pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka atau pembelajaran secara konvensional melalui metode ceramah, penuguasan, tanya jawab dan demontrasi dengan pembelajaran secara online yang memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Blended learning sebagai bagian dari LMS (Learning Management System), menurut Ellis (2009) dapat dikatakan merupakan sebuah managemen pembelajaran yang disiapkan untuk peserta didik dan guru dalam melakukan pembelajaran melalui perangkat lunak. Adapun perangkat lunak LMS yang bisa digunakan dalam blended learning antara lain: ACS, Blackboard, Certpoint, Moodle, Canvas, Google Classroom, dan sebagainya.

Beberapa penelitian relevan dilakukuan menunjukkan hasil yang sangat siginifikan terkait pembelajaran dengan menggunakan blended learning dalam meningkatkan hasil pembelajaran bahasa Inggris dan keterampilan menyimak. Rachman, Sudiyono, & Phonix (2021) dalam penelitian mereka mengindikasikan bahwa dampak positif pengimplementasian blended learning yaitu membantu para guru untuk menutupi kekurangan yang ada dalam pembelajaran offline (tatap muka) berupa pembelajaran online. Selain itu, dapat juga membantu peserta didik menggunakan bahasa Inggris secara kontekstual dengan berbagai media online untuk meningkatkan kemampuan bahasa mereka.

Implementasi blended learning pada pembelajaran listening juga diteliti oleh Aji (2017). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kegiatan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang dapat dikembangkan melalui latihan. Penerapan blended learning memungkin guru memfasilitasi peserta didik secara mandiri untuk meningkatkan keterampilan mendengarkan mereka menggunakan media seperti videotape, audiotape atau komputer dimanapun melaui pembelajarn online, baik di rumah atau di laboratorium bahasa dengan bahan tertentu. Dengan demikian, peserta didik dapat berlatih mendengarkan kosa kata, struktur kalimat dan dialog dalam bahasa sasaran sesering dan sefektif mungkin.

Selama pandemi dan adanya himbauan bagi peserta didik untuk belajar dari rumah oleh pemerintah dan dinas terkait, memaksa penulis juga untuk menerapkan blended learning berupa penggunaan Google Classrom. Platform pembelajaran ini pada awalnya bagi penulis menimbulkan permasalahan terkait terbatasnya interaksi, komunikasi dan bimbingan terhadap perkembangan bahasa dan pembentukan karakter peserta didik. Namun, seiring berjalannya waktu dan penggalian informasi terkait platform pembelajaran, GC malah sangat membantu penulis dalam kegiatan mengajar jarak jauh yang lebih efektif dari pada menggunakan WhatsApps dikarenakan materi/tugas yang diupload teradministrasi dengan baik begitu juga dalam pengevaluasian/penskoran hasil tugas yang diupload peserta didik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Zuriah (2020) mengindikasikan bahwa strategi penerapan blended learning dengan Google Classroom di masa pandemi Covid-19 malah menunjukkan implikasi yang positif dalam penerapan Blended learning dengan Google Classroom yang dapat meningkatkan kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada siklus I (62,91%), siklus II (82,69%), dan siklus III (90,37%).

Google classroom sebagai platform blended learning yang dikembangkan oleh Google untuk sekolah, tentu saja mempunyai signifikan bagi guru dalam menyederhanakan pembuatan, pendistribusian dan penetapan tugas dengan cara tanpa kertas atau berbasis online. Sebagaimana Aini (2018), Astuti, dkk (2021), Nanthinii (2020), dan Nasirah (2020) juga memaparkan bahwa Google Classroom sebagai web aplikasi yang bisa digunakan sebagai media pembelajaran virtual. Platform atau aplikasi pembelajaran yang dapat digunakan di dalam dan di luar kelas atau kapanpun saja sebagai media pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik.

Penerapan Google Classroom sebagai platform belajar juga dapat meningkatkan keterampilan reseptif (menyimak dan membaca) teks bahasa Inggris. Penelitian ini dilakukan oleh Dewi, dkk (2020), hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa nilai pembelajaran bahasa Inggris peserta didik makin membaik yang ditunjukan pada pra-siklus sebesar 64,66%, siklus I 76,96 % dan siklus II 76,29%. Selain itu, penggunaan Google Classroom dirasa menarik bagi peserta didik berdasarkan hasil observasi dan tes. Singkat kata, penggunaan teknologi khususnya Google Classroom dalam proses pembelajaran dapat membantu peserta didik meningkatkan kemampuan reseptif berbahasa Inggris peserta didik.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa penggunaan Google Classroom saja dalam pembajaran bahasa Inggris khususnya pada keterampilan listening belum tentu juga bisa langsung mengatasi tantangan atau permasalahan yang ada sebagaimana disebutkan sebelumnya terkait keterampilan listening itu sendiri atau pada pembelajaran jarak jauh. Hal ini dikarenakan ada faktor lain yang juga mempengaruhinya yaitu berupa faktor subtansi berupa muatan kompetensi bahasa Inggris yang harus dikuasi peserta didik. Kegiatan pembelajaran bahasa Inggris SMK lebih cenderung terkat dengan analisis fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan berbagai teks monolog atau teks transaksional (dialog) terkait situasi kerja tertentu. Salah satu contoh teks transaksional terkait wawancara pekerjaan untuk peserta didik kelas XII. Di pertemuan pertama terkait kompetensi dasar ini, hanya sekitar 30% peserta didik yang dapat menganalisis fungsi ataupun menangkap makna berdasarkan rekaman audio (recording) yang penutur asli sampaikan pada dialog.

Tentu saja, permasalahan ini harus segera diatasi demi tercapainya tujuan pembelajaran yang tepat, misalnya menggunakan GC berbantuan layanan British Council. Sebagaimana penilitan yang dilakukan oleh Ningtias, Prastikawati & Wahyuni (2021) diketahui bahwa British Council sebagai media latihan online untuk pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) memberikan kontribusi yang lebih pada keterampilan menyimak. Hal ini dikarenakan, fitur British Council memberikan tugas/latihan online disertai audio atau podcast, transkrip dan worksheet (lembar kerja/tugas) untuk pembelajara sebagai sarana belajar mandiri. Dengan demikian, website ini memainkan peran yang sangat positif dalam menghadirkan kemajuan teknologi dan peningkatan skill berbahasa Inggris.

Selain itu, berdasarkan paparan dari penelitian Rizkan, Mukhaiyar, & Refnaldi (2018) dapat diketahui bahwa guru perlu menggunkan media pembajaran yang tepat pada aplikasi pembelajaran (missal pada Google Classroom) sebagai alat yang memudahkan peserta didik dalam mempelajari teks lisan yang disampiakan oleh penutur asing seperti menggunakan video YouTube karena ada subtititle (transkripnya) atau menggunakan audio recording yang sesuai dengan level mereka.

Penelitian lainnya juga memberikan hasil positif terkait permasalahan di kelas listening dengan menggunakan media YouTube. Qomariyah, Permana, & Hidayatullah (2021) dari hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar mendengarkan pemahaman dengan menggunakan video YouTube sebagai media pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung di kelas. Riftiningsih (2018) berdasarkan PTK yang dilakukan diketahui bahwa peningkatan keterampilan menyimak peserta didik menggunkan media video cukup signifikan yang ditunjukkan pada siklus I yaitu 6.667% dan siklus sebesar II 76.667%.

Dengan demikian, berdasarkan permasalahan yang dipaparkan, penelitian terdahulu yang relevan sebagai rujukan dan teori sebagi tinjaun ilmiah, maka penelitian ini dilakukan dengan metode library reseach (studi kepustakaan). Penelitian ini tentu saja berbeda dengan penelitian lainnya karena lebih menfokuskan pada objek penggunaan model blended learning melalui Google Classroom dengan media online British Council dan video YouTube dalam upaya meningkatkan keterampilan listening peserta didik terkait dialog wawancara pekerjaan.

  

1.2   Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang masalah, rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini yaitu bagaimanakah implementasi blended learning menggunakan Google Classroom dengan media online British Council dan video YouTube dapat meningkatkan kompetensi listening peserta didik terkait teks wawancara pekerjaan.

 

1.3   Tujuan Penelitian

Berdasarkan studi kepustakaan (library research), maka tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh terkiat penerapan model Blended Learning dengan flatform Google ClassIroom berbantuan British Council dan video YouTube dapat meningkatkan kompetensi listening peserta didik terkait teks wawancara pekerjaan.

 

1.4   Manfaat Penelitian

Hasil atau temuan yang didapat melalui implementasi model blended learning menggunakan Google Classroom berbantuan media online British Council dan video YouTube diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis bagi guru dan sekolah sebagai hasil evaluasi dan informasi bagi para guru untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa Inggris khususnya pada kompetensi menyimak teks transaksional atau dialog lisan.

 

 

 

1.5   Ruang Lingkup Penelitian

Agar permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini lebih fokus, maka peneliti menggaris bawahi ruang lingkup atau batasan penelitian sebagai berikut:

a.     Makalah ini hanya berupa review atau kajian literatur dari berbagai teori dan penelitian yang releven untuk membahas permasalahan yang dihadapi penulis di kelas;

b.     Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui peningkatan kompetensi menyimak peserta didik melalui penerapan Google Classroom;

c.     Media untuk pembelajaran listening yang digunakan pada Google Classroom hanya menggunakan British Council dan video YouTube; dan

d.     Kompetensi dasar sebagai objek penelitian ini terbatas pada kompetensi pengetahuan (KD. 3.29) yaitu menganalisis fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks interaksi transaksional lisan yang melibatkan tindakan memberi dan meminta informasi terkait jati diri dalam konteks pekerjaan (wawancara pekerjaan).


 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  

2.1   Pembelajaran Tatap Muka vs. Pembelajaran Jarak Jauh

 

2.1.1 Karakteristik dan kelebihan pembelajaran tatap muka

Pembelajaran tatap muka (PTM) atau luring menurut Lestari, dkk (2021) adalah kegiatan pembelajaran berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang belangsung atau hadir secara fisik di ruang kelas. Dengan demikian, karakteristik pembelajaran tatap muka adalah kegiatan terencana yang berorientasi pada tempat serta interaksi sosial di dalam ruang kelas. Strategi pelaksanaan pembelajaran bervariasi seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, dll.

Meskipun, kegiatan PTM masih bersifat konvensional, banyak pendidik dan para peneliti berpendapat bahwa model pembelajaran ini masih lebih ideal sampai sejauh ini dari pada pembelajaran daring. Sebagaimana Madjid (2020) memaparkan kelebihan dari PTM adalah sebagai berikut: (1) interaksi dan komunikasi lebih mudah dalam menyampaikan informasi dan tanya-jawab, sedangkan pada daring terbatas pada video call atau chat saja; (2) sumber dan media pembelajaran lebih familiar, sedangkan flatform daring masih perlu persiapan dan pelatihan yang memadai; (3) tidak harus terhubung dengan Internet; (4) mudah dalam penilaian karakter karena berinteraksi dan menganalisis secara langsung; (5) lebih mudah dipantau dan dikontrol dalam hal motivasi, kejenuhan dan fokus dalam belajar; dan (6) praktikum lebih gampang, efektif dan guru dapat memastikan bahwa apa yang dibuat atau hasil praktikum yang dikerjakan merupakan hasil karya para peserta didik.

 Pendapat lainnya diutarkan oleh Totoh (2021), praktisi pendidikan perguruan tinggi ini juga menegaskan bahwa selama pemberlakuan PJJ ada banyak alasan para peserta didik ingin sekolah, mulai dari kejenuhan, banyak tugas yang kurang dipahami, kurang efektifnya PJJ, ada mata pelajaran yang tidak bisa dengan online dan kerinduan mereka ingin mengenal teman-temannya juga guru-gurunya yang hanya dikenal lewat daring. Yang pasti, mereka ingin bersosialisasi dan berinteraksi mulai dari bercanda gurau, mengobrol, bermain, lari-lari, bernyanyi, dan juga jajan bersama di kantin. Pengalaman yang mengasyikkan ini hamper 2 tahun tidak dirasakan lagi oleh peserta didik. Dengan demikian, harus diakui jika penutupan sekolah fisik dan pelaksanaan pendidikan jarak jauh memiliki efek merugikan pada pembelajaran peserta didik melalui empat saluran utama, keempatnya adalah; (1) Efektivitas waktu belajar; (2) Stres yang meningkat; (3) Perubahan pada cara interaksi peserta didik; dan (4) Menurunnya motivasi belajar.

 

2.1.2 Karakteristik dan kelebihan pembelajaran jarak jauh

Pro dan kontra PTM vs Daring adalah bak simalakama. Namun, di tengah kekhawatiran penularan dan tertular virus COVID-19, harus disadari jika pandemi COVID-19 telah berhasil mempercepat terjadinya perubahan pada sikap dan perilaku pengelola pendidikan, termasuk guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran pada semua jenjang dan jenis pendidikan untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang kian masif. Kebijakan PJJ mulai dari berbagai program televisi atau sistem online atau e-learning/ daring dari sekolah, juga pembelajaran daring-luring atau blended learning yang dikelola sendiri oleh satuan pendidikan menjadi transisi global di bidang akademis.

Terkait, pembelajaran daring, jika dilihat dari KBBI Kemendikbud, daring adalah akronim dalam jaringan, terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya. Menurut Daryanto (2013) mendefinisikan pembelajaran daring adalah sebagai sistem pembelajaran mengunakan media elektronik, internet, komputer dan file multimedia (suara, gambar, animasi dan video). Dengan kata lain, pembelajaran daring adalah metode belajar yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Manajemen System (LMS). Seperti menggunakan Zoom, Google Meet, Google Classroom, dan lainnya.

Sedangkan, karakteristik pembelajaran daring yaitu:

a.     Memanfaatkan jasa elektronik, dimana guru dan peserta didik dan sesama peserta didik atau guru dengan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.

b.     Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer network).

c.     Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self-learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan peserta didik kapan saja dan dimana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.

d.     Memanfaatkan jadwal pembelajaran kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat dikomputer. (Siahaan, 2008)

 

Dari karakteristik tersebut, keuntungan dan maanfaat pembelajaran jarak jauh berupa pembelajaran daring/e-learning dikutip dari Daryanto (2013) antara lain yaitu: (1) real-time and on demand online information berupa synchronous learning yaitu pembelajaran daring secara langsung menggunakan aplikasi telekonferensi, (2) mobility access, fleksibel, dan praktis karena dapat dilaksanakan kapan saja sesuai keinginan, (3) mengurangi biaya pendidikan terkait infrastruktur, peralatan, buku-buku pelajaran, dan lain-lain), (4) mengoptimalkan kualitas belajar, (5) less administrative papers (mengurasi penggunaan kertas sebagai bagian dari kelengkapan administrasi), (6) dapat melengkapi aktivitas belajar PTM atau konvensional, (7) alternatif media belajar anak-anak, remaja, orang dewasa, samai orang tua untuk belajar kapan pun dan menyenangkan, (8) melatih pembelajar lebih mandiri dan berkembang dalam ilmu dan pengetahuan, (9) fleksibel memilih materi yang benar-benar diinginkan atau dibutuhkan, (10) sumber ilmu, informasi dan referensi yang berlimpah, (11) menghemat waktu proses belajar-mengajar, dan (12) belajar-mengajar dengan aman dan sehat.

Apresiasi atas kebijakan dalam evaluasi PJJ dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, pelatihan guru, dan infrastruktur teknologi. Munculnya potensi lost of learning (kehilangan pembelajaran) khususnya di daerah terpencil dan risiko psikososial kepada satu generasi anak-anak di Indonesia bisa menjadi permanen adalah suatu risiko yang harus ditangani segera. Namun, jika kegiatan belajar ingin segera tatap muka maka yang penting untuk dilakukan oleh pemerintah, pihak sekolah, guru, orang tua, peserta didik dan masyarakat adalah memastikan tidak ada risiko penularan dan tertular virus COVID-19. Namun, jika tidak siap, maka pembelajaran melalui jarak jauh lebih aman.

  

2.2   Model Pembelajaran Blended Learning

2.2.1 Karakteristik blended learning

Blended learning merupakan gabungan 2 istilah Bahasa Inggris, yaitu: blended dan learning. Kata blend artinya campuran, sedangkan learn yang artinya belajar. Makna dasar sebenarnya mengandung belajar campuran, sehingga dapat dikatakan pembelajaran yang mengunakan berbagai macam cara. Para ahli sepakat bahwa istilah blended learning merupakan perpaduan pembelajaran secara konvensional dan daring. Husamah (2013) menyatakan bahwa blended learning mengkombonasikan ranah terbaik dari pembelajaran daring, aktivitas tatap muka terstruktur, dan praktek dunia nyata.

Pendapat lain diutarakan oleh Williams (2002), Osguthrope & Graham (2003) yang menyatakan bahwa blended learning adalah pembelajaran campuran dari pembelajaran tradisional dan online. Hal ini juga didefinisikan sebagai integrasi alat e-learning seperti lingkungan belajar virtual dengan pembelajaran tatap muka (Welker & Berardino, 2006). Tujuan dari jenis pembelajaran ini adalah untuk menggabungkan keuntungan dari pembelajaran tatap muka (PTM) di kelas dengan keunggulan e-learning untuk meningkatkan lingkungan belajar.

Dalam studi saat ini blended learning mengacu pada kombinasi online dan metode tatap muka dalam menanggapi kebutuhan peserta didik dan untuk pencapaian tujuan instruksional. Ini berarti bahwa banyak pendekatan, metode, dan sumber daya untuk mengajar atau untuk proses pendidikan digabungkan dan dimanfaatkan oleh guru yang sekarang mengharapkan peserta didik untuk belajar tidak hanya dari halaman web dan komunikasi yang ditugaskan pada media/platform pembelajaran (misalnya email, papan diskusi dan ruang obrolan) tetapi juga dari kuliah tatap muka, tutorial, orang ke orang berdiskusi dan seminar. Contohnya termasuk menggabungkan bahan berbasis teknologi dan bahan cetak tradisional, studi kelompok dan individu, studi kecepatan terstruktur dan studi mandiri, panggilan konferensi, tutorial, dan pelatihan. Jadi, dapat dikatakan bahwa blended learning merupakan perpaduan antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran teknologi yang merupakan pembelajaran yang menyesuaikan minat dan kebutuhan peserta didik (Aji, 2017).

 

2.2.2 Langkah-langkah pelaksanaan model blended learning

Dalam pelaksanaannya, model blended learning tentu harus dipersiapkan dengan baik agar rancangan dan pelaksaannya sesuai dengan tujuan pembelajaran. Berikut langkah-langkah model blended learning yaitu:

a. Plan the integrated blended learning into your course followed by:

1) What is the situation?

a) Developing new course

b) Redesigning course

2) What is the course context?

a) Course level considerations

b) Program, Faculty, Group influences

3) Who are the students?

a) Year of study (1st year students or later year students)

b) Class numbers (is it a large class or a small class)

c) Student type (international or national students, students from a low/high socio-economic background, age students, students with work/ family commitments)

b. Design and develop the blended learning elements:

1) Content and resources

a) Lecturer materials

b) Lecturer recordings

c) Virtual classroom

2) Digitized reading or documents

a) Learning support resources

b) Assessment

c) Communication

c. Implementing the blended learning design:

1) Getting the students ready for blended learning

2) A good ending

d. Review (evaluate) the effectiveness of blended learning design)

1) Peer evaluation

a) “Classroom” performance

b) Learning materials

2) Student learning

a) Student’s self-reported knowledge

b) Student work

3) Student experiences

a) Informal feedback

b) Student evaluation of teaching

c) Customized course survey (Bath and Bourke (2010)

 

Dari langkah-langkah blended learning tersebut, dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan model pembelajaran ini yang perlu diperhatikan adalah ketersedian alat/sumber belajar, level peserta didik, rancangan materi ajar, assessmen (penilaian) dan bagaimana komunikasi/interaksi dapat dilakukan antara guru dengan peserta didik maupun peserta didik dengan peserta didik lainnya.

 

2.2.3 Kelebihan dan kelemahan model blended learning

Sebagai salah satu model pembelajaran di kelas, blended learning memiliki

kelebihan dibandingkan dengan model pembelajaran lainnya yaitu: 1) Pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi; 2) Pembelajaran lebih efektif dan efisien; 3) Meningkatkan aksesabilitas; 4) Peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri dengan memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara daring; 5) Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan pengajar atau peserta didik lain di luar jam tatap muka; 6) Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam tatap muka dapat dikelola dan dikontrol dengan baik oleh pengajar; 7) Pengajar dapat menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet; 8) Pengajar dapat meminta peserta didik untuk membaca materi atau mengerjakan tes yang dilakukan sebelum pembelajaran; 9) Pengajar dapat menyelenggarakan kuis, memberikan balikan, dan memanfaatkan hasil tes secara efektif; 10) Peserta didik dapat saling berbagi file atau data dengan peserta didik lain; 11) Memperluas jangkauan pembelajaran/pelatihan; 12) Kemudahan implementasi; 13) Efisiensi biaya; 14) Hasil yang optimal; 15) Menyesuaikan berbagai kebutuhan pembelajaran; dan 16) Meningkatkan daya tarik pembelajaran (Wicaksono & Rachmadyanti, 2020).

Walaupun demikian, blended learning sebagai model pembelajaran PTM dan daring masih memiliki celah untuk dikatakan kurang efektif karena memiliki kelemahan sebagai berikut: 1) Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung; 2) Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta didik, seperti komputer dan akses internet. Padahal, blended learning memerlukan akses internet yang memadai dan bila jaringan kurang memadai, itu tentu akan menyulitkan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran mandiri via daring; dan 3) Kurangnya pengetahuan sumber daya pembelajaran (pengajar, peserta didik dan orang tua) terhadap penggunaan teknologi (Husamah, 2013).

Kelemahan tersebut bisa diminimalisir berdasarkan penelitian yang dilakukan Aini (2018), Astuti, dkk (2021), Dewi, dkk (2020), Nasirah (2020), Nanthinii (2020), dan Wicaksono & Rachmadyanti (2020). Menurut mereka bahwa ada banyak platform untuk pembelajaran online seperti Zoom meetings, Google Meet, WhatsApp, Google Classroom, dan lain-lain, namun pendidik tetap harus memilih media/platform/aplikasi pembelajaran yang sesuai dengan fasilitas dan gawai yang dimiliki guru serta peserta didik. Menurut mereka penentuan media pembelajaran melalui google classroom (GC) sebagai keterbatasan bisa dilakukan. Pembiasaan penggunaan salah satu aplikasi pembelajaran campuran (blended learning) ini akan memberikan dampak positif dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR).

 

 

2.3   Google Classroom sebagai Alternatif Platform Pembelajaran Jarah Jauh

 

2.3.1 Definisi Google Classroom

Google classroom berdasarkan blog IdCloudHost (2020) adalah suatu serambi aplikasi pembelajaran campuran secara online yang dapat digunakan secara gratis. Pendidik bisa membuat kelas mereka sendiri dan membagikan kode kelas tersebut atau mengundang para peserta didiknya. aplikasi ini diperuntukkan untuk membantu semua ruang lingkup pendidikan yang membantu peserta didik untuk menemukan atau mengatasi kesulitan pembelajaran, membagikan pelajaran dan membuat tugas tanpa harus hadir ke kelas.

Menurut Aini (2018) google classroom adalah sebagai aplikasi online yang digunakan untuk kelas virtual sehingga peserta didik dapat kapan saja dan di mana saja belajar menggunakan materi yang disajikan oleh guru sebagai perancang kelas. Martinez-Mones, dkk (dikutip dalam Alim, dkk, 2017) dan Astuti, dkk (2021) menyatakan bahwa google classroom merupakan layanan berbasis Internet yang dirancang untuk memudahkan guru dan peserta didik dalam mengirimkan tugas tanpa harus menggunakan kertas (paperless). Ia mengatakan paperless karena platform ini memiliki banyak fitur yang dapat memudahkan peserta didik dalam mengakses materi atau tugas yang diberikan oleh guru.

Namun, pengembangan google classroom pada tahap awal di tahun 2014-2016 sebenarnya tidak diperuntukan untuk semua orang, hanya bagi sekolah yang berkerjasama dengan google yang dapat mengaksesnya. Lalu, di bulan Maret 2017 google classroom dapat diakses oleh seluruh orang dengan menggunakan google pribadi. Hal ini yang dapat dimanfaatkan oleh guru, peserta didik dan wali murid dalam pembelajaran, sehingga tidak diperlukan kerjasama dengan google. Pemanfaatan secara terbuka dapat memberikan keuntungan bagi pengguna google classroom (Wicaksono & Rachmadyanti, 2020).

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 Tampilan Google Classroom

 

2.3.2 Fungsi Google Classroom

Tujuan utama Google Classroom adalah sebagai platform pembelajaran untuk merampingkan proses berbagi file antara guru dan peserta didik dengan menggunakan: a) Google Drive untuk pembuatan dan distribusi penugasan, b) Google Docs, Sheets, Slides untuk penulisan, c) Gmail untuk komunikasi, dan d) Google Calendar untuk penjadwalan.  Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Shampa Iftakhar (2016) dengan judul Google Classroom: What Works and How? diketahui bahwa google classroom sangat membantu dalam memfasilitasi peserta didik untuk belajar. Guru dapat melihat seluruh aktivitas peserta didik selama pembelajaran di google classroom karena interaksi antara guru dan peserta didik terekam dengan baik.

Sedangkan, berdasarkan penilitian yang dilakukan oleh Nanthinii (2020) dengan judul “A Study of Google Classroom as an Effective LMS to Improve the LSRW Skills of ESL” diketahui bahwa google classroom dapat mendorong lingkungan yang menguntungkan, interaktif, dan berpusat pada peserta didik dan menjadi alternatif yang efektif untuk pembelajaran yang berpusat pada guru. Aplikasi ini juga memungkin guru untuk dapat melacak kemajuan belajar peserta didik melalui tugas dan kuesioner. Sehingga, platform ini cukup menjanjikan untuk pembelajaran bahasa pada tingkat menengah sampai perguruan tinggi.

 

2.3.3 Fitur Google Classroom

Google Classroom, aplikasi besutan Google ini, menyediakan berbagai fitur yang bisa dimanfaatkan para guru. Guru bisa memberikan materi pelajaran, pekerjaan rumah, dan berinteraksi dengan peserta didiknya melalui Google Classroom. Adapun fitur yang dimiliki oleh google classroom menurut Aini (2018), Iftakhar (2016), Nanthinii (2020), Rizal (2020), dan Wicaksono & Rachmadyanti (2020) terdiri dari:

1) Stream (forum): Menu ini berfungsi untuk sarana diskusi kelas antara guru dan peserta didik terkait topik/tugas yang diberikan.

2) Classwork (tugas): Menu ini memungkinkan guru untuk memberikan materi, tugas, pertanyaan, quiz, dan sebagainya. Tugas bisa ditambahkan dengan sumber belajar berupa link berbagai situs dari Internet, file word, Pdf, Video, dan atau melakukan video conference melalui Google Meet. Pada menu ini juga, peserta didik dapat menyerangkan (submit) tugas/pertanyaan sesuai dengan topik dan batasan waktu yang dijadwalkan.

3) People (anggota): Dari menu ini guru dan peserta didik dapat mengetahui siapa yang sudah bergabung di kelas dan mereka juga dapat mengirimkan e-mail ke guru atau keanggota yang lain.

4) Mark (nilai): Menu ini menyajikan hasil penilaian yang diberikan oleh guru berupa tabel nilai disetiap pertemuan atau tugas yang diposting.

 

2.3.4 Kelebihan dan Kelemahan Google Classroom

Sebagai salah satu platform PJJ, google classroom memiliki beberapa kelebihan yakni mudah digunakan, menghemat waktu, berbasis cloud, fleksibel, dan gratis. Hal ini yang menjadi pertimbangan bahawa google classroom tepat digunakan dari sekolah hingga perguruan tinggi. Meskpiun masih memiliki kelemahan seperti tidak adanya layanan eksternal seperti bank soal secara otomatis dan obrolan secara pribadi antara guru untuk mendapat umpan balik (Wicaksono & Rachmadyanti, 2020). Dari penelitian yang dilakukan Nathinii (2020) juga menyebutkan bahwa melalui GC peserta didik mampu melacak kemajuan, umpan balik dan nilai secara langsung.

Sedangkan, Iftakhar (2016) lebih rinci memaparkan kelebihan dari google classroom yaitu: 1) Sangat mobile Friendly untuk pemula didesain dengan sederhana akan tetapi banyak fitur; 2) Mudah dalam mengelola tugas yang diberikan karena materi yang diberikan otomatis tersampaikan ke laman peserta didik dan bisa kita terima juga liwat email. Google Classroom memberikan bentuk tugas atau materi dalam berbagai bentuk mulai dari dokumen, tulisan, foto, gambar, dan masih banyak lagi file yang dapat dikelola; 3) Semua file masuk ke Google Drive baik itu mp4, mp3, doc, pdf, zip dan masih banyak lagi, maka tidak usah khawatir akan kehilangan file ataupun dokumen yang lainya. Itu semua sudah tersimpan di Google Drive; 4) Mudah meninjau tugas sebelum dikirim, karena Google Classroom menyediakan fitur melihat tugas sebelum dikirim dan bisa diedit; 6) Bebas dari iklan dan aman bagi guru maupun peserta didik; 7) Tersedia secara gratis di playstore ataupun appstore menggunakan hand phone ataupun komputer.

Namun, Google Classroom juga memiliki kelemahan berdasarkan penelitian yang dilakukannya dengan judul “A Study of Google Classroom as an Effective LMS to Improve the LSRW Skills of ESL Learners” antara lain: a) aktivitas pembelajaran kurang menarik bagi peserta didik; b) sulit memahami tugas dan materi tanpa didukung penjelasan dari guru; dan c) masih tergantung dengan jaringan Internet.

 

2.4   Karakteristik Pembelajaran Bahasa Inggris dan Kompetensi Listening di SMK

 

2.4.1 Tujuan mata pelajaran bahasa Inggris di SMK

Mata pelajaran Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran adaptif yang berperan menunjang pencapaian kompetensi program keahlian. Pembelajaran bahasa Inggris di SMK bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar Bahasa Inggris untuk mendukung pencapaian kompetensi program keahlian. Pembelajaran Bahasa Inggris juga bertujuan dalam menerapkan penguasaan kemampuan dan keterampilan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Sehingga pada akhirnya secara maksimal mendukung kompetensi bidang keahlian secara khusus yang dimiliki peserta didik. Peserta didik akan mampu mengkomunikasikan keahlian dan berupa produk keahlian kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Mata pelajaran Bahasa Inggris membekali peserta didik kemampuan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tuntutan global, serta membekali peserta didik untuk mengembangkan komunikasi ke taraf yang lebih tinggi. Kompetensi yang dimiliki merupakan kemampuan secara personal. Ketika ini mampu dikomunikasikan dan bahkan sampai ketingkat global akan menjadi sebuah prestasi yang gemilang. Kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulis menjadi sangat penting.

 

2.4.2 Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Inggris di SMK

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor: 07/D.D5/Kk/2018, pembelajaran bahasa Inggris di SMK meliputi: a) kompetensi dasar pengetahuan (KD.3) yang mengarahkan peserta didik agar mampu menganalisis fungsi sosial, struktur dan unsur kebahasaan berbagai teks lisan dan tulis berupa teks transaksional, khusus dan atau fungsional. KD ini berkaitan dengan kompetensi menyimak (listening) dan membaca (reading) untuk menggali informasi tersirat maupun tersurat dari teks yang disajikan; dan (2) kompetensi dasar keterampilan (KD.4), berkaitan dengan kompetensi berbicara (speaking) dan menulis (writing) yang menuntut peserta didik agar terampil dalam menyusun dan mengkomunikasikan berbagai teks lisan dan tulis (transaksional, khusus dan atau fungsional) dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar serta sesuai konteks penggunaannya.

Dari KD pengetahuan dan keterampilan tersebut, materi pelajaran bahasa Inggris di SMK untuk kelas X meliputi pembelajaran berbasis teks terkait jati diri dan keluarga, ucapan selamat, ungkapan niat, deskriptif, pengumuman/pemberitahuan, tindakan lampau (simple past tense vs present perfect tense), recount, naratif, teks khusus (memo, menu, schedule dan signs), perbandingan kata sifat, memberi dan meminta informasi tentang petunjuk arah (direction), dan kegiatan/tugas-tugas rutin sederhana (simple routine tasks).

Untuk kelas XI, materi bahasa Inggris yaitu berbagai jenis teks terkait saran dan tawaran, meminta dan memberi pendapat (opini), meninggalkan pesan sederhana lewat telephone, undangan resmi, surat pribadi, manual penggunaan teknologi, passive voice, pengandaian, biografi tokoh dan hubungan sebab akibat.

Sedangkan, di kelas XII, materi pembelajaran bahasa Inggris meliputi teks yang berhubungan dengan report, penyajian laporan, menawarkan bantuan dan jasa, surat lamaran pekerjaan, wawancara pekerjaan, kewajiban/keharusan, berita, dan pengandaian diikuti oleh perintah/saran.

 

2.4.3 Pembelajaran menyimak (listening) di SMK

Perlu diketahui bahwa kegiatan listening (menyimak) didefinisakan oleh Rost (2011) sebagai salah satu proses komunikasi dimana pendengar mendengarkan pembicara untuk menerima, menafsirkan dan memahami informasi yang disampaikan. Keterampilan reseptif ini terlihat mudah dan sederhana, namun tidak semudah yang dibayangkan, karena mendengarkan tidak hanya membutuhkan telinga untuk menerima informasi tetapi juga membutuhkan pemikiran dan pengetahuan sebelumnya guna menafsirkan dan memahami ucapan yang disampaikan dengan benar.

Pada konteks SMK, keterampilan menyimak terkait dengan semua kompetensi dasar pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan konteks. Kegiatan ini adalah langkah awal atau sebagai keterampilan reseptif selain kegiatan membaca (reading) untuk menggali informasi awal pada berbagai jenis teks transaksional lisan. Oleh karena itu, kegiatan menyimak sering dilakukan guru pada pertemuan awal atau pada tahapan observasi atau mengumpulkan informasi di pendekatan saintifik (5 M).

Kegiatan pembelajaran menyimak bahasa Inggris dapat dilakukan dengan berbagai teknik. Menurut Fachrurrazy (2014) dalam bukunya “Teaching English as Foreign Language for Teachers in Indonesia” bahwa kegiatan menyimak di kelas bisa dilakukan dengan cara: a) listening for perception (mendengarkan untuk persepsi) yaitu peserta didik dapat diberi latihan dalam mengidentifikasi bunyi yang berbeda (different sounds), kombinasi suara (sound combinations), dan intonasi (intonations) dengan tepat; b) listening for comprehension (mendengarkan untuk pemahaman) yaitu pertama, terdiri dari latihan-latihan dimana para peserta didik hanya mendengarkan tanpa harus membuat tanggapan secara terbuka atau hanya berupa perintah. Kedua berupa respon minimal (biasanya non-verbal). Hal ini dilakukan untuk mendemontrasikan pemahaman berupa respon singkat. Ketiga, respon bersifat lebih panjang dan bisa melibatkan keterampilan membaca, berbicara, menulis, dan berpikir kritis tentang sebuah masalah. Terakhir, mendengarkan sebagai dasar studi dan diskusi.

Selanjutnya, Tcagley (2016) mengkonsepkan 3 level dari comprehensif listening dalam memahami gagasan, ide dan pesan atau tugas berdasarkan teks lisan sebagaiman dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Level Menyimak untuk Pemahaman

Level Menyimak untuk Pemahaman

Informational

(Listening to learn)

Critical

(Listening to evaluate and analyze)

Therapeutic or Empathic

(Listening to understand feeling and emotion)

Kegiatan menyimak untuk mempelajari atau diinstruksikan untuk menemukan intisari (untuk mendapatkan ide pokok) dan untuk menemukan detail (untuk mendapatkan informasi yang spesifik).

Mendengarkan untuk memecahkan masalah atau membuat keputusan.

Mendengarkan untuk memahami perasaan dan emosi pembicara untuk menempatkan pendengar pada posisi pembicara dan berbagi pemikiran mereka.

                     Sumber: Diadaptasi dari Tcagley (2016)

Sedangkan, Houston (2016) menyatakan berupa tiga tahapan dari aktivitas menyimak di kelas atau laboraturium bahasa. Tahap pertama, pre-listening yaitu sebagai aktiviatas persiapan berupa menebak topik, atau seberapa tahunya peserta didik terkait topik yanga akan dipelajari. Tahap kedua, whilst-listening yaitu untuk menemukan informasi umum, informasi rinci/khusu dan kesmpulan terkait pendapat mereka mengenai teks lisan yang disajikan. Tahap ke-3, post-listening yaitu sebagai tahap pembahasan, evaluasi dan tindak lanjut dengan menunjukkan transkrip untuk mendeteksi kesalahan pemahaman dan masalah yang dihadapi peserta didik.

 

2.4.4 Teks Interaksi transaksional wawancara pekerjaan

Materi wawancara pekerjaan (job interview) termasuk kedalam KD. 3.29 (pengetahuan) dan 4.29 (keterampilan) untuk kelas XII sebagimana dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut:

 

Tabel. 2.2 Kompetensi Dasar dari Materi Wawancara Pekerjaan

Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar

3.29  Menganalisis fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks interaksi transaksional lisan yang melibatkan tindakan memberi dan meminta informasi terkait jati diri dalam konteks pekerjaan (wawancara pekerjaan)

4.29  Menyusun teks interaksi transaksional lisan yang melibatkan tindakan memberi dan meminta informasi terkait jati diri dalam konteks pekerjaan (wawancara pekerjaan), dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks penggunaannya di dunia kerja.

 

Berdasarkan KD tersebut diketahui bahwa wawancara pekerjaan termasuk kedalam teks interaksi transaksional. Menurut Alawiyah (2018) teks transaksional adalah teks yang digunakan untuk berkomunikasi/berhubungan dengan orang lain. Tujuan dari jenis teks ini adalah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dari lawan bicara. Oleh karena itu, kebanyakan teks transaksional adalah berbentuk percakapan/dialog lisan maupun tulis.

Job interview adalah wawancara yang dilakukan oleh karyawan atau manajer personalia terhadap pelamar pekerjaan. Bagian personalia menanyakan hal-hal tentang data diri pelamar dan beberapa pertanyaan terkait posisi yang akan ditempati oleh pelamar. Dalam kesempatan itu, pelamar juga dapat menceritakan keahlian dan pengalamannya sebagai bahan pertimbangan untuk bagian personalia, sekaligus menunjukkan bahwa yang bersangkutan pantas berada di posisi tersebut (Savitri, 2021).

Wawancara dalam bahasa Indonesia mungkin saja tidak terlalu sulit karena pemahaman akan bahasa Indonesia pasti lebih baik dibandingkan dengan wawancara dalam bahasa lain seperti bahasa Inggris. Terlebih lagi, di SMK terkait KD wawancara pekerjaan, peserta harus menganalisis fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaannya. Fungsi sosial dari wawancara pekerjaan adalah menjelaskan identitas diri dan potensi keahlian untuk meyakinkan orang lain agar dapat diterima sebagai partner kerja atau karyawan yang baik. Struktur teks wawancara pekerjaan, misal: a) Could you tell me about what kind of person you are?; b) Could you tell me about your educational background?; c)  Would you tell me about your skills?; d) Can you tell me about your last job?; e) Can you work under the target and pressure?; f) Would you say about your strength?; g) Would you say about your weakness?; h) What is your goal for your future?. Sedangkan, unsur kebahasaan wawancara pekerjaan adalah: a) kosa kata dan tata bahasa baku; b) ucapan, tekanan kata, dan intonasi; c) ejaan dan tanda baca, dan d) penggunaan Wh-questions dan Yes-No question (Fakhruddin, 2018).


 

BAB III

PEMBAHASAN

  

3.1   Implementasi model Blended-Learning menggunakan Google Classroom

 

Model pengembangan blended learning yang digunakan oleh guru di satuan pendidikan hampir semuanya berupa model campuran (hybrid learning). Model ini memungkinkan pelaksanaan pembelajaran dengan sistem tatap muka (luring) dan atau secara daring (online). Salah satu flatform dari blended leraning adalah Google Classroom (GC). Melalui GC, kapan pun dan dimanapun saja guru dapat memberikan tugas ke siswa begitu juga sebaliknya dengan siswa yang bisa mengakses dan menyerahkan tugas sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Selain itu, GC juga memungkinkan pembelajaran daring dapat dilangsungkan secara sinkronus maupun asinkronus. Iftahar (2016) menyatakan bahwa sekolah dapat mengadopsi ruang kelas virtual sinkron yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan siswa secara "real time" menggunakan GC. Sinkronus adalah interaksi pembelajaran antara guru dan siswa yang dilakukan pada waktu bersamaan dengan menggunakan teknologi misalnya pembelajaran melalui video conference di zoom meeting atau Google Meet, chatting atau forum diskusi di WhatsApp, Telegram dan lainnya. Sedangkan, asinkronus adalah pembelajaran yang dilakukan secara fleksibel dan tidak harus dalam waktu yang sama, misalkan belajar mandiri di ruang guru, penugasan yang bisa diserahkan sebelum waktu yang ditentukan di GC, dan lain sebaginya.

Namun, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas baik dengan sistem luring maupun daring tentu saja harus didasarkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang baik. Begitu juga pada GC, semua materi atau tugas harus merujuk pada RPP agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Untuk model blended learning menggunakan GC dapat mengadaptasi kegiatan pembalajaran berdasarkan paparan dari Pratiwi, Parijo & Warneri (2020) yaitu sebagai berikut: 1) Guru meng-upload materi pembelajaran pada aplikasi/platform pembelajaran online, 2) Guru menyapa kondisi siswa dan menginformasikan kepada siswa untuk mempelajari materi yang sudah di-upload 3) Guru mengecek kehadiran siswa, 4) Guru menjelaskan materi ajar dengan memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai siswa dalam materi/tugas, 5) Guru memotivasi, membimbing siswa untuk mendapatkan informasi tambahan dari berbagai sumber untuk memahami materi pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berdiskusi atau melakukan tanya-jawab terkait hal yang belum dimengerti, 6) Guru memberikan evaluasi melalui aplikasi pembelajaran online dalam bentuk kuis maupun essai (soal uraian) yang telah dipersiapkan. 7) Guru melakukan penilaian berupa reward, skor atau tanggapan terkait tugas yang dikerjakan.

 

  

3.2   Pembelajaran listening melalui Google Classroom dalam Upaya Meningkatan Kemampuan Menyimak Terkait Wawancara Pekerjaan

 

Keterampilan menyimak adalah bagian dari empat keterampilan dasar dalam bahasa Inggris selain berbicara, membaca dan menulis. Menyimak menjadi aspek penting dalam menguasai bahasa Inggris, karena melalui keterampilan ini pembelajar bahasa dapat menerima dan menafsirkan pesan dalam proses komunikasi. Dengan demikian, keterampilan menyimak merupakan salah satu keterampilan reseptif untuk komunikasi yang efektif. Tanpa ketidakmampuan untuk mendengarkan secara efektif menyebabkan miskomunikasi atau salah pemahaman.

Siswa sering menghadapi ketidakmampuan untuk memahami pesan yang diterima saat mereka sedang pembelajaran menyimak bahasa Inggris. Mubarok (2015) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembelajaran menyimak seperti tidak ada pasangan untuk siswa dalam berkomunikasi secara baik dan benar, materi/latihan yang terbatas dalam melatih keterampilan menyimak siswa, dan tidak memiliki aplikasi atau sumber yang dapat mendukung kegiatan menyimak yang efektif. Jadi, inilah sebabnya mengapa dalam mengajarkan keterampilan menyimak, guru harus menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajar.

Terlebih lagi disaat pandemi ini, pembelajaran bhasa Inggris termasuk keterampilan menyimak hanya dapat dilakukan melalui pembelajaran secara daring karena sekolah tidak diperkenankan PTM. Oleh karena itu, salah satu alternatif platform untuk pembelajaran daring yaitu dengan menggunakan Google Classroom (GC). GC adalah platform pembelajaran campuran (luring dan daring) yang dapat menyederhanakan kegiatan pembelajaran seperti pembuatan tugas dan penilaian guru. Pernyataan ini sesuai dengan penelitian dari Aini (2018) yang memeparkan bahwa penerapan GC sebagai media pembelajaran memungkinkan proses pembelajaran online akan berjalan lancar. Siswa juga bisa belajar mandiri di rumah dengan mempelajari materi yang diberikan oleh guru dan pengiriman tugas tepat waktu, karena platform ini dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Guru akhirnya dapat dengan mudah memantau kehadiran siswa melalui absen online yang didistribusikan melalui GC dan memberikan tanggapan atau nilai setelah siswa mengirimkan tugas. Oleh sebab itu, platform ini memungkinkan guru memfasilitasi pembelajaran menyimak dengan lebih efektif misalnya menggunakan media online dari British Council dan video YouTube.

 

3.2.1   Penggunaan Google Classroom dengan media online British Council

 

GC diketahui mempunya berbagai fitur. Salah satu fiturnya yaitu “Tugas Kelas atau Classwork” yang merupakan fitur utama untuk memberikan materi, tugas, kuis, dan atau pertanyaan. Tugas yang dikirm ke siswa dapat disertai dengan link dari Internet, file word/Pdf, audio, video, atau langsung terhubung dengan YouTube.

Untuk dapat mengakses fitur ini, guru hanya perlu mengklik menu “Tugas Kelas atau Classwork” pada GC, pilih “Create” lalu tampil “assignment, quiz assignment, question, and material”. Jika ingin membuat pertanyaan, maka pilih “pertanyaan”, lalu isi judul pertanyaan dan buat deskripsi tugas. Pada deskripsi tugas ini, guru dapat mencantumkan link (misalanya British Council) dan pertanyaan yang akan dikerjakan siswa. Apabila, ketentuan tugas/pertanyan seperti topik, poin/skor dan batas waktu pengerjaan sudah diisi semua, klik “Tugaskan (ditugasakan sekarang)” atau “Jadwalkan (ditugasakan sesaui kalender/jadwal yang ditentukan)”. Contoh penerapannya dapat dilihat pada Gambar 3.1. berikut ini.

Gambar 3.1 Tugas pada Google Classroom dengan Media British Council

 

British Council (BC) adalah platform pembelajaran bahasa Inggris secara online untuk mengembangkan keempat keterampilan bahasa melalui melalui kursus dan sumber daya berkualitas tinggi. Platform ini dapat diakses di https://learnenglish.britishcouncil.org/. Fitur yang ditawarkan yaitu antara lain: a) online courses, skills (listening, speaking, reading, and writing), b) grammar (beginner to pre-intermediate), c) vocabulary (beginner to pre-intermediate), d) business English (business magazine, podcasts for professional, English for emails), e) general English (video zone, audio zone, magazine zone, story zone, audio series, and video series), dan f) IELTS (International English Language Testing System).

Fokus ke keterampilan menyimak, keterampilan ini dapat diakses pada BC melalui menu “skills”. Setelah itu, untuk akses ke latihan listening, pembelajar hanya perlu mengklik menu “listening”. Pada menu ini, BC menyediakan berbagai macam latihan mandiri pada menu “listening” untuk meningkatkan pemahaman dan pengucapan dari level untuk beginner intermediate, dan sampai ke advanced.  Hal ini dapat dilihat pada websitenya yang menegaskan bahwa:

a)      Listening will help you to improve your understanding of the language and your pronunciation; and

b)      The self-study lessons in this section are written and organised according to the levels of the Common European Framework of Reference for languages (CEFR). There are recordings of different situations and interactive exercises that practise the listening skills you need to do well in your studies, to get ahead at work and to communicate in English in your free time. The speakers you will hear are of different nationalities and the recordings are designed to show how English is being used in the world today. (https://learnenglish.britishcouncil.org/skills/listening).

 

Pemilihan level dan topik pembelajaran merupakan langkah selanjutnya yang harus ditentukan. Terkait dengan topik wawancara pekerjaan, ternyata materini berada di level Advance C1 (lih. Gambar 3.2). Level ini menyediakan latihan mendengarkan untuk membantu memahami ucapan yang diperluas tentang topik yang abstrak, kompleks, atau asing. Situasinya berkaitan dengan wawancara kerja, kuliah, pembicaraan dan pertemuan.

 

Gambar 3.2 Salah satu Level dan Topik yang Disajikan dari Latihan Listening pada British Council

 

Pada latihan menyimak wawancara pekerjaan, BC menyediakan empat fitur untuk meningkatan kemampuan listening terkait materi tersebut. Fitur yang disediakan sebagaimana yang ditunjukkan Gambar 3.3 terdiri dari: a) preparation task (latihan persiapan terkait singkatan yang ada pada teks listening); b) audio recording (rekaman suara/percakapan yang tidak bisa didownload tapi bisa diatur untuk diplay-back (diputar ulang) sesuai dengan kebutuhan); c) transcript (teks tertulis untuk mengecek pemahaman ucapan/kata yang didengarkan); dan d) practise a variety of listening skills (latihan menyimak yang beragam terdiri dari 2 tugas yang harus dikerjakan). Tugas yang dikerjakan pada BC akan otomatis dinilai oleh sistem terkait jawaban yang benar dan salah. Selain itu, pembelajar bisa melakukan latihan ulang lagi agar mendapat skor yang maksimal.




Gambar 3.3 Display Latihan Listening pada Level Advanced C1 terkait Wawancara Pekerjaan

Hasil pembelajaran melalui British Council dapat dilihat pada Lampiran 3a yang menunjukan bahwa 10 peserta didik atau 76,92% telah mencapai KKM berdasarkan kegiatan pembelajaran listening melalui British Council. Sedangkan, hanya sebanyak 3 peserta didik atau 23,08% yang belum mencapai KKM. Dengan demikian, ketuntasan belajar atau daya serap klasikal yang dicapai adalah 76%. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran pada pertemuan ke-24 melalui media online British Council terkait wawancara pekerjaan dapat dinyatakan berhasil atau meningkat karena mencapai kriteria ketuntasan klasikal ≥ 75 % peserta didik mencapai KKM.

Dengan demikian, sebagai media online British Council mempunyai signifikasi yang positif untuk bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing dalam kegiatan menyimak, karena difasilitasi dengan audio antentik, latihan yang menarik dan refresentatif serta dapat dilakukan secara mandiri kapanpun dan dimanapun. Hal ini juga sejalan dengan penelitian “Students’ Perception toward the use of British Council Application in Listening Subject” yang dilakukan oleh Mandasari (2020) diketahui bahwa BC mempunyai pengaruh yang sangat postif terhadap aspek pengetahuan, keetampilan dan sikap peserta didik dalam pembelajaran menyimak, karena aplikasi BC dapat mendorong peeningkatan pemahaman bahasa Inggirs melalui materi yang autentik dan menarik.

Penelitian lain yang relevan juga menyatakan bahwa fitur yang ada pada BC disertai dengan audio, podcast maupun videonya lebih bagus dari pada belajar listening dengan hanya menggunakan rekaman konvensional. Sebagaimana, Ningtias, Prastikawati & Wahyuni, (2021) pada penelitian mereka yang berjudul “British Council Podcast Apps to Improve Students’ Listening Comprehension” mengidikasikan bahwa BC mempunya kontribusi yang lebih baik dimasa sekarang untuk kegiatan listening dan penggunaan teknologi, karena siswa memiliki kesempatan untuk belajar di mana saja dan kapan saja dengan fitur yang disediakan BC secara online. Selain itu, Movahedi, Lotfi & Sarkeshikian (2017) dari penelitian mereka yang berjudul “Iranian EFL Learners’ Attitudes toward Using British Council Video Clips and Podcasts for Listening Comprehension” menemukan bahwa situs web British Council sebagai sumber online resmi menawarkan banyak video dan podcast menarik dan menciptakan situasi kehidupan nyata bagi pelajar EFL untuk meningkatkan keterampilan menyimak mereka.

 

3.2.2   Penggunaan Google Classroom dengan media video YouTube

 

British Council sebagi situ online dalam mempelajari bahasa Inggris tentu menyediakan berbagai audio, video, ataupun podcast untuk keterampilan menyimak bahasa Inggris, akan tetapi dalam topik tertentu kadang hanya 1 atau 2 audio maupun video yang tersedia. Untuk itu, guru perlu sumber/media online yang lain sebagai bahan/materi listening peserta didik. Alternatif lain yaitu dengan menggunakan YouTube sebagai media pembelajaran yang digunakan pada GC.

Untungnya, GC mempunyai fitur yang memungkin guru memberikan materi pembelajaran dengan berbagai sumber dengan mencantumkan link situs dari YouTube atau sumber lain dan atau menambahkan file audio atau video yaitu pada menu classwork (tugas). Astuti, dkk (2020) juga menegaskan bahwa GC memiliki fitur yang terhubung langsung ke YouTube pada menu tugas, sehingga dapat memudahkan guru untuk membagikan tautan ke materi pembelajaran bahasa Inggris berupa video pembelajaran untuk membantu siswa mendapatkan informasi tambahan yang dapat membantu meningkatkan keterampilan bahasa Inggris mereka.

Untuk mencantumkan link situs dari YouTube atau sumber lain, guru hanya perlu mengklik menu “Tugas Kelas atau Classwork”, dan pilih “Create” lalu tampil “assignment, quiz assignment, question, and material”. Jika ingin membuat pertanyaan, maka pilih “pertanyaan”, lalu isi judul pertanyaan dan buat deskripsi tugas. Pada deskripsi tugas ini, guru dapat mencantumkan link video pembelajaran dari YouTube dan pertanyaan yang akan dikerjakan siswa. Apabila, ketentuan tugas/pertanyan seperti topik, poin/skor dan batas waktu pengerjaan sudah diisi semua, klik “Tugaskan (ditugasakan sekarang)” atau “Jadwalkan (ditugasakan sesaui kalender/jadwal yang ditentukan)”. Contoh penerapannya dapat dilihat pada Gambar 3.4.




Gambar 3.4 Tugas Google Classroom Menggunakan Link YouTube pada Bagian

                      Deskripsi Tugas

 

 

Sedangkan untuk tugas menyimak yang langsung terhubung ke YouTube, guru perlu mengklik menu “Tugas Kelas”, “Create” dan pilih “Pertanyaan”. Kemudian isi judul dan deskripsi pertanyaan tersebut. Lalu klik “Tambahkan”. Untuk melampirkan video pembelajaran dari YouTube, guru hanya perlu mengklik simbul YouTube pada menu bagian bawah sebagaimana yang ditunjukkan Gambar 3.5 berikut. 





Gambar 3.5. Display Fitur untuk Terhubung dengan Video YouTube secara Langsung pada Google Classroom

 

YouTube tentu saja mempunyai beragam video yang biasa dijadikan sumber belajar terutama pada kegiatan menyimak. Terkait materi wawancara pekerjaan, video YouTube yang berkaitan dengan materi tersebut dapat diakses pada link berikut, antara lain: a) https://youtu.be/hQEeGqZxhgA, b) https://youtu.be/Rl6AIHUskl0, c) https://youtu.be/4CkAJ_ac7zk, d) https://www.YouTube.com/watch?v=ExJZAegsOis. Sementara, tugas yang diberikan guru bisa berbentuk latihan pengucapan, merangkum (fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan), soal pilihan ganda, essai (urain), benar-salah, melengkapi pernyataan/informasi pada dialog rumpang, menyusun informasi acak, retelling (menceritakan kembali), diskusi, dan lain-lain.

Pada pertemuan ke-25 (Lampiran ke 2b) peneliti melakukan pembelajaran listening menggunakan video YouTube terkait materi wawancara pekerjaan dengan kegiatan pembelajaran, hasil pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa hanya 2 peserta didik (15,38%) yang belum mencapai KKM. Sedangkan, 11 peserta didik lainnya atau 83,46% sudah tuntas dalam mencapai tujuan pembelajaran atau KKM yang diharapkan. Dengan demikian, penggunaan video YouTube dapat dinyatakan juga berhasil dalam meningkatkan hasil pembelajaran karena lebih dari 75 % peserta didik mencapai KKM (ketuntasan klasikal).

Beberapa penelitian yang relevan telah dilakukan terkait penggunaan video YouTube untuk meningkatkan kemampuan menyimak. Lestari (2019) pada penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan judul “The Use of YouTube Vlog to Improve the Students’ Listening Skill of MTs Samarinda” menunjukkan bahwa lebih dari 75% siswa berdasarkan skor individu pada keterampilan menyimak telah mencapai KKM, karena penggunaan video YouTube yang memungkinkan mereka dapat menyimak ucapan bahasa Inggris dengan lebih baik melalui bantuan audio-visual dan transkrip (subtitle) yang ada pada video YouTube.

Kemudian, penelitian dengan judul “The Effect of Using YouTube as a Teaching Media on the Students’ Listening Skill” yang dilakukan Rizkan, Mukhaiyar & Refnaldi (2019) mengindikasikan bahwa YouTube dapat digunakan sebagai bahan ajar yang dapat membantu pendidik untuk mengembangkan proses pengajaran sehingga siswa mendaptkan pemahaman yang jelas terkait kegiatan menyimak yang lebih efektif dari pada hanya menggunakan audio-recording (rekaman). Selain itu, Qomariyah, Permana, & Hidayatullah (2021) dari hasil “The Effect of YouTube Video on Students’ Listening Comprehension Performance juga menunjukkan bahwa siswa merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar mendengarkan pemahaman dengan menggunakan video YouTube sebagai media pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung di kelas.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa YouTube bisa dijadikan sebagai media alternatif untuk listening yang cukup efektif di kelas luring maupun daring. Sebagimana, Karkera & Chamundeshawari (2018) dan Shafwati, dkk menegaskan video YouTube sebagai penyedia video terbesar di internet, tentu saja dapat digunakan pendidik sebagai media dalam meningkatkan pemahaman menyimak siswa dan juga dapat menjadi sumber pembelajaran mandiri dengan berbagai isu atau topik terbaru.

 

  

BAB IV

PENUTUP

  

4.1   Kesimpulan

 

Google classroom sebagai alternatif platform model blended learning (pembelajaran secara luring dan daring) sangat membantu dalam memfasilitasi peserta didik untuk belajar mandiri dari rumah, memfasilitasi peserta didik maupun guru melalui fitur stream, chat room dan classwork, memantau kehadiran peserta didik melalui absen online yang didistribusikan melalui GC, dan memberikan tanggapan atau nilai setelah peserta didik mengirimkan tugas pada fitur mark. Dengan demikian, platform ini juga memungkinkan guru memfasilitasi pembelajaran menyimak dengan lebih efektif misalnya menggunakan media online dari British Council dan video YouTube pada menu “tugas/classwork”.

Pada latihan menyimak wawancara pekerjaan, British Council menyediakan fitur pra-latihan, rekaman suara untuk listening, teks tulis listening (script), dan latihan yang dilengkapi dengan soal. Sumber atau media online lain sebagai alternatif bahan (materi) listening peserta didik juga bisa menggunakan YouTube. Terkait materi wawancara pekerjaan, YouTube tentu saja menyediakan lebih banyak video wawancara pekerjaan dibandingkan dengan British Council dengan kegiatan pembeajarn yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan level peserta didik.

Hasil pembelajaran listening melalui media online British Council dan juga menggunakan video YouTube terkait wawancara pekerjaan pada GC mengindikasikan bahwa model Blended Learning yang diimplementasikan di kelas daring sangat signifikan untuk meningkatkan keterampilan menyimak siswa. Hal ini dikarenakan oleh adanya peningkatan skor yang diperoleh peserta didik yaitu lebih dari 75 % mencapai kriteria ketuntasan atau KKM secara klasikal pada tiap pertemuan: pertemuan ke-24 yaitu 76,92% dan pertemuan ke-25 sebesar 84,62%.

 

4.2   Saran

 

Sebagai tindak lanjut dari pembahasan dan kesimpulan, penulis menyarankan, antara lain:

a.     Agar peserta didik terus semangat dan aktif dalam mengikuti pembelajaran menggunakan platfom online untuk meningkatkan sikap (karakter), pengetahuan, dan keterampilan khususnya pada mata pelajaran bahasa Inggris, walaupun masih dalam kondisi belajar dari rumah.

b.     Agar guru sebagai pendidik tetap mampu untuk berinovasi dan berkreasi dalam menentukan strategi pembelajaran berbasis blended learning; dan

c.     Agar makalah ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk mengatasi persoalan terkait peningkatan keterampilan menyimak mata pelajaran Bahasa Inggris yang dilakukan secara daring. 














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Language Feature: Pronoun