MENGENJOT KEMAMPUAN MENGINGAT JANGKA PANJANG DALAM PROSES PEMBELAJARAN
MENGENJOT
KEMAMPUAN MENGINGAT JANGKA PANJANG DALAM
PROSES PEMBELAJARAN
(Kajian
Pengorganisasian Informasi/Pengetahuan dalam Ingatan Manusia)
Hairudin
Rahman, M.Pd
*SMK Negeri 1 Haruai
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Otak manusia merupakan perangkat yang
paling kompleks di dunia. Trilyunan sel otak memiliki fungsi spesifik yang
saling berhubungan. Mereka mengendalikan seluruh aspek fisik dan psikis manusia
baik secara sadar maupun tak sadar Kapasitas penyimpanan memori di dalam otak
jauh melebihi kapasitas hardisk komputer terbesar sekalipun. Akan tetapi,
sayangnya manusia tidak mampu mengoptimalkan seluruh potensi otak tersebut
untuk mengingat segala sesuatu yang telah dialami bahkan kadang berangsur-angsur
akan menghilang. Akibatnya, munculah sifat-sifat manusia berkaitan dengan
ingatan seperti sering lupa, lemah mengingat, dan daya hafalan rendah. Meskipun
demikian, untung saja daya ingatan seseorang dapat dipertajam atau dioptimalkan
kerjanya dengan mempertimbangkan cara seseorang dalam menyimpan memori kedalam otak.
Informasi yang tersimpan di dalam otak
didapat dari panca indera melalu proses perhatian dan persepsi, kemudian tersimpan
dalam ingatan atau memori. Informasi tersebut akan tersimpan dalam waktu yang
singkat atau dalam waktu yang lama. Informasi yang tersimpan dalam jangka waktu
singkat berarti informasi tersebut hanya masuk ke dalam ingatan jangka pendek (short term memory), manakala informasi
itu masuk ke dalam ingatan jangka panjang (long
term memory) ia akan tersimpan dalam waktu yang relatif lama, mulai dari
satu menit sampai akhir hayat seseorang.
Kaitannya dalam proses pembelajaran, hasil
belajar psikomotorik dan sikap, tidak begitu mudah terlupakan, karena
keterampilan motorik dan sikap, konkrit, gampang diingat, cenderung bertahan
terus, bahkan menjadi semakin kuat dan mulai merupakan kebiasaan-kebiasaan yang
tidak lagi disertai kadar kesadaran yang tinggi. Namun, hasil belajar kognitif
kerap disimpan dalam ingatan dalam bentuk perumusan verbal, misalnya
pengetahuan, konsep, kaidah serta prinsip yang diproses melalui ingatan jangka
pendek (STM) untuk diolah (encoding),
kemudian dapat dipanggil (retrieval)
dan dimasukkan ke dalam ingatan jangka panjang (LTM) yang rentan terjadinya proses
lupa akibat informasi bertambah (asimiliasi), rusak (decay) atau terhalang (interference).
Dengan demikian, tentu saja faktor
lupa dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang dan diperlukannya ingatan
jangka panjang. Menurut pakar psikologi, faktor lupa dapat diatasi dengan mnemonics yaitu mempergunakan strategi
atau teknik-teknik yang dipelajari guna membantu meningkatkan kemampuan
mengingat.
Rumusan Masalah
Makalah ini disusun dengan rumusan
masalah sebagai berikut:
a) Bagaimanakah tahapan dalam proses
mengingat?
b) Apa saja sistem ingatan manusia?
c) Apa saja prasyarat dalam meningkatkan
kemampuan mengingat?
d) Bagaimanakah strategi yang digunakan
untuk meningkatkan kemampuan mengingat jangka panjang?
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk memahami dan mengetahui lebih lanjut tentang:
a)
tahapan
dalam proses mengingat;
b)
sistem
ingatan manusia;
c)
prasyarat
dalam meningkatkan kemampuan mengingat; dan
d)
strategi
dalam meningkatkan kemampuan mengingat jangka panjang
PEMBAHASAN
Tahapan dalam Mengingat
Ingatan (memory) adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak
dalam pengambilan informasi. Djamarah (2008) dan Lum & Conti-Ramsden (2013)
memandang ingatan sebagai hubungan antara pengalaman dengan masa lampau. Apa
yang telah diingat adalah hal yang pernah dialami, pernah dipersepsinya, dan
hal tersebut pernah dimasukkan kedalam jiwanya dan disimpan kemudian pada suatu
waktu kejadian itu ditimbulkan kembali dalam kesadaran. Ingatan merupakan
kemampuan untuk menerima dan memasukkan (learning),
menyimpan (retention) dan menimbulkan
kembali apa yang pernah dialami (remembering).
Dalam proses mengingat informasi,
menurut Safitri (2017) dan Zakiah (2016) meliputi tiga tahapan yaitu memasukkan
informasi (encoding), penyimpanan (storage), dan mengingat (retrieval stage).
a) Fungsi memasukkan (Encoding)
Encoding merupakan proses pengkodean
terhadap apa yang dipersepsi dengan cara mengubah menjadi simbol-simbol atau
gelombang-gelombang listrik tertentu yang sesuai dengan peringkat yang ada pada
organisme. Jadi proses ini bertujuan untuk mengubah sifat suatu informasi ke
dalam bentuk yang sesuai dengan sifat-sifat memori organisme. Proses ini sangat
mempengaruhi lamanya suatu informasi disimpan dalam memori.
Proses pengubahan informasi ini dapat
terjadi dengan dua cara, yaitu: 1) tidak
sengaja, yaitu apabila hal-hal yang diterima oleh inderanya dimasukkan
dengan tidak sengaja ke dalam ingatannya. Contoh konkritnya dapat kita lihat
pada anak-anak yang umumnya menyimpan pengalaman yang tidak disengaja, misalnya
bahwa ia akan mendapat apa yang diinginkan jika ia menangis keras-keras sambil
berguling-guling. 2) sengaja, yaitu
bila individu dengan sengaja memasukkan pengalaman dan pengetahuan ke dalam
ingatannya. Contohnya kita sebagai mahasiswa, dimana dengan sengaja kita
memasukkan segala hal yang dipelajarinya di perguruan tinggi.
b) Fungsi menyimpan (Storage)
Fungsi kedua dari ingatan adalah
mengenai penyimpanan (penyimpanan terhadap apa yang telah diproses dalam encoding, apa yang dipelajari atau apa
yang dipersepsi). Sesuatu yang telah dipelajari biasanya akan tersimpan dalam
bentuk jejak-jejak (traces) dan bisa
ditimbulkan kembali. Jejak-jejak tersebut biasa juga disebut dengan memory traces. Walaupun disimpan, namun
jika tidak sering digunakan maka memory
traces tersebut bisa sulit untuk ditimbulkan kembali bahkan juga hilang,
dan ini yang disebut dengan kelupaan.
c) Fungsi menimbulkan kembali (Retrival)
Fungsi ketiga ingatan adalah berkaitan
dengan menimbulkan kembali hal-hal yang disimpan dalam ingatan. Proses
mengingat kembali merupakan suatu proses mencari dan menemukan informasi yang
disimpan dalam memori untuk digunakan kembali bila dibutuhkan. Mekanisme dalam
proses mengingat kembali sangat membantu organisme dalam menghadapi berbagai
persoalan sehari-hari. Seseorang dikatakan “belajar dari pengalaman” karena ia
mampu menggunakan berbagai informasi yang telah diterimanya di masa lalu untuk
memecahkan berbagai masalah yang dihadapi saat ini juga.
Sistem Ingatan
Struktur ingatan manusia menurut Neysa
(2016), Yamin (2010) & Bhinnety (2016), dan Zakiah (2016) dibedakan menjadi
tiga sistem, yaitu: (a) sistem ingatan sensorik (sensory memory), (b) sistem ingatan jangka pendek (short term memory/STM), dan (c) sistem
ingatan jangka panjang (long term memory/LTM).
Sistem ingatan tersebut dikenal sebagai model paradigm Atkinson dan Shiffrin
yang telah disempurnakan oleh Tulving dan Madigan.
Memori
sensori mencatat
informasi atau stimuli yang masuk melalui salah satu atau kombinasi dari panca
indra, yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga, bau
melalui hidung, rasa melalui lidah, dan rabaan melalui kulit. Bila informasi atau
stimuli tersebut tidak diperhatikan akan langsung terlupakan, namun bila
diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer ke sistem ingatan jangka
pendek.
Sistem
ingatan jangka pendek
menyimpan informasi atau stimuli selama sekitar 30 detik, dan hanya sekitar
tujuh bongkahan informasi (chunks) dapat disimpan dan dipelihara di system memori
jangka pendek dalam suatu saat. Setelah berada di sistem memori jangka pendek,
informasi tersebut dapat ditransfer lagi dengan proses pengulangan ke sistem ingatan jangka panjang (gudang
memori) untuk disimpan, atau dapat juga informasi tersebut hilang/terlupakan
karena tergantikan oleh tambahan bongkahan informasi baru (displacement) Selanjutnya setelah berada di system memori jangka
panjang, informasi tersebut dapat diperoleh kembali melalui strategi tertentu,
atau informasi tersebut terlupakan (gagal atau tidak dapat diperoleh kembali) karena
adanya kekurangan dalam sistem pengarsipannya.
Prasyarat dalam Meningkatkan Kemampuan
Mengingat
Secara umum usaha-usaha untuk
meningkatkan kemampuan memori harus memenuhi tiga ketentuan yaitu:
a) proses mengingat
bukanlah suatu usaha yang mudah, karena seseorang dikatakan “belajar dari
pengalaman” sebab ia mampu menggunakan berbagai informasi yang telah
diterimanya di masa lalu untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya
saat ini.
b) bahan-bahan yang akan
diingat harus mempunyai hubungan dengan hal-hal lain. Khusus mengenai hal ini, konteks
memegang peranan penting. Konteks dapat berupa peristiwa, tempat, nama sesuatu,
perasaan tertentu dan lain-lain. Konteks ini memberikan retrievel cues yang mempermudah recognition.
c) proses mengingat
memerlukan organisasi. Salah satu pengorganisasian informasi yang sangat
dikenal adalah mnemonik yaitu informasi
diorganisasi sedemikian rupa (dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dikenal)
sehingga informasi yang kompleks mudah untuk diingat kembali (Safitri (2017).
Srategi Mengingat Jangka Panjang dalam
Pembelajaran
Ingatan jangka panjang (long term memory) merupakan gudang
ingatan, sebagai penyimpanan informasi secara permanen (berlangsung lama dari
beberapa menit hingga tidak terbatas). Selain itu informasi tersimpan dalam
bentuk makna dan pengetahuan yang terorganisasi (semantik). Informasi yang
sudah menjadi pengetahuan dalam ingatan jangka panjang akan dapat dipanggil
kembali.
Menurut Yamin (2010) bahwa informasi
yang sudah menjadi pengetahuan dalam ingatan jangka panjang akan dapat
dipanggil kembali. Pemanggilan ingatan tersebut dapat dilakukan dengan cara:
1) Pengingatan (recall) yaitu proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan
informasi secara verbal (kata demi kata) tanpa petunjuk yang jelas. Contoh,
siswa menjawab pertanyaan guru, “Apakah
Harimau sejenis dengan kucing?” Siswa mencoba mengingat kembali fakta yang
tersimpan di dalam ingatannya (memorinya).
2) Pengenalan (recognition) yaitu menghadirkan fakta kembali dengan dikuti
petunjuk. Seperti guru bertanya, “Apa
nama ibu kota Jawa Barat?”, lebih sukar dijawab dibanding pertanyaan kedua,
“Apa nama ibu kota Jawa Barat, Bandung atau Surabaya?” Dalam konteks
ini, siswa dapat mengenali satu di antara dua, sehingga soal pilihan ganda (multiple choice) dalam tes objektif
siswa dituntut untuk mengenal konsep, bukan mengingat.
3) Belajar lagi (relearning) yaitu mempelajari lagi pelajaran yang telah diperoleh
termasuk pekerjaan memori. Contoh, pada waktu usia 8 “Budi” sudah hafal sajak
Khairil Anwar, sekarang usianya sudah 18 tahun, ditanya oleh ayahnya “apakah ia masih ingat dengan sajak Khairil
Anwar?”, Budi menjawab “tidak ingat”.
Kemudian ayahnya bertanya lagi, “apa saja
sajak yang Budi kenal?” Budi menjawab tidak ada sajak yang ia kenali.
Selanjutnya, ayahnya memerintahkan Budi menghafal sajak-sajak yang diberikan,
ternyata sajak yang telah hafal pada usia 8 tahun dulu lebih cepat dihafalnya dibandingkan
dengan sajak yang tidak pernah sama sekali dibaca atau dihafalnya pada usia 8
tahun. Jadi, menurut psikologi, 25% seseorang lebih cepat menghafal kutipan atau
sesuai jika pernah ditemuinya, dibaca, disaksikan atau dihafal sebelumnya.
4) Redintegrasi (redintegration) yaitu merekonstruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk
memori kecil seperti irama dan nada lagu yang sering membawa seseorang pada
kenang-kenangan masa lalu, membuatkan emosinya terpengaruh; menangis, sedih,
gembira,dan senyum.
Dengan demikian, terkait dengan proses
pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan mengingat pembelajaran, siswa dapat
melakukan strategi sebagai berikut: a) menaruh perhatian (attention, alertness) yaitu memperhatikan hal yang akan dipelajari,
sehingga konsentrasi terjamin; b) menyadari tujuan belajar (motivation, expectancy) yaitu sadar akan
tujuan instruksional dan bersedia melibatkan diri; c) menggali dari LTM (retrieval to working memory) yaitu mengingat
kembali dari ingatan jangka panjang apa yang sudah diketahui/dipahami/dikuasai
tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari; d) berpersepsi selektif (selective perception) yaitu mengamati
unsur-unsur dalam perangsang yang relevan bagi pokok bahasan sehingga
memperoleh pola perseptual; e) mengolah informasi (encoding; entry to LTM storage) yaitu memberikan makna pada pola
perseptual dengan membuat informasi sungguh berarti, antara lain dengan
menghubungkannya dengan informasi lama yang sudah digali dari LTM; f) menggali informasi
dari LTM (responding to question or task)
yaitu membuktikan melalui suatu prestasi kepada guru dan diri sendiri bahwa
pokok bahasan telah dikuasai sehinnga adanya indikasi bahwa tujuan
instruksional khusus pada dasarnya telah dicapai; g) mendapatkan umpan balik (feedback reinforcement) yaitu mendapat
penguatan dari guru kalau berprestasi dan mendapat koreksi kalau tindaknnya
salah; dan h) memantapkan hasil belajar (frequent
retrieval transfer) yaitu mengerjakan berbagai tugas mandiri, bertukar informasi
dan mereview kembali apa yang telah dipelajari.
PENUTUP
Ingatan merupakan kemampuan untuk
menerima dan memasukkan (learning),
menyimpan (retention) dan menimbulkan
kembali apa yang pernah dialami (remembering)
sebagai sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan
informasi. Informasi tersebut akan masuk kedalam sistem ingatan berupa sistem ingatan
sensorik, sistem ingatan jangka pendek dan sistem ingatan jangka panjang.
Dengan demikian, perlu diketahui bahwa untuk mengingat kembali sesuatu yang
telah terjadi bukanlah perkara mudah dikarenakan perlu adanya konteks dan
pengorganisasian, Kaitannya dengan pembelajaran, ingatan jangka panjang tentu
diperlukan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan hasil yang optimal.
Beberapa strategi (mnemonics) yang
dapat diterapkan siswa di kelas untuk mengenjot daya ingat yaitu dengan menaruh
perhatian/konsentarsi pada pelajaran, menyadari tujuan pembelajaran, menggali
dari LTM, berpersepsi selektif, mengolah informasi, menggali informasi, mendapatkan
umpan balik, dan memantapkan hasil
belajar.
REFERENSI
Afiatin, T. 2001. Belajar Pengalaman untuk
Meningkatkan Memori. Anima, Indonesian
Psychological Journal, 17(1),
26-35.
Bhinnety, Magda. 2016. Struktur dan
Proses Memori. Buletin Psikologi, 16(2), 74-88.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008,
Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.
Lum, Jarrad A.G. & Conti-Ramsden,
Gina. 2013. Long-term Memory: A review and meta-analysis of studies of
declarative and procedural memory in specific language impairment. Europe PMC Founder Author Manuscripts, 33(4), 282–297
diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3986888/ pada tanggal 12 Juli 2019.
Neysa, Elva Rohmatin. 2016. Memori
Jangka Panjang (Long Term Memory). Psykognitif,
diakses dari https://psykognitif.wordpress.com/2016/12/07/memori-jangka-panjang-long-term-memory/ pada tanggal 12 Juli 2019.
Safitri, Dyah Intan. 2017. Ingatan dan
Tranfer Belajar. Dyahintanblog, diakses
dari https://dyahintanblog.wordpress.com/2017/06/05/makalah-tentang-ingatan/ pada tanggal 12 Juli 2019.
Yamin, Martinis. 2010. Mempertajamkan
Daya Tahan Ingatan dalam Proses Belajar. Martnis1960’s
Blog, diakses dari https://martinis1960.wordpress.com/2010/08/01/mempertajamkan-daya-tahan-ingatan-dalam-proses-belajar/ pada tanggal 12 Juli 2019.
Zakiah, Diana. 2016. Memori Manusia
(short term memory dan long term memory). Information
and Library Management, diakses dari http://dianamaulidazakiah22.blogspot.com/2016/10/memori-manusia.html pada tanggal 12 Juli 2019.
Komentar
Posting Komentar